Kamis, 13 September 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN “MALARIA”


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Malaria merupakan penyakit yang terdapat di daerah Tropis. Penyakit ini sangat dipengaruhi oleh kondisi-kondisi lingkungan yang memungkinkan nyamuk untuk berkembangbiak dan berpotensi melakukan kontak dengan manusia dan menularkan parasit malaria. Contoh faktor-faktor lingkungan itu antara lain hujan, suhu, kelembaban, arah dan kecepatan angin, ketinggian. Salah satu faktor lingkungan yang juga mempengaruhi peningkatan kasus malaria adalah penggundulan hutan, terutama hutan-hutan bakau di pinggir pantai. Akibat rusaknya lingkungan ini, nyamuk yang umumnya hanya tinggal di hutan, dapat berpindah di pemukiman manusia, kerusakan hutan bakau dapat menghilangkan musuh-musuh alami nyamuk sehingga kepadatan nyamuk menjadi tidak terkontrol.
Malaria masih merupakan masalah penyakit endemik di wilayah Indonesia Timur khususnya NusaTenggara Barat. Salah satu masalah yang dihadapi adalah kesulitan mendiagnosis secara cepat dan tepat. Berdasarkan hasil evaluasi Program Pemantapan Mutu Eksternal Laboratorium Kesehatan pada pemeriksaan mikroskopis malaria, yang dilakukan oleh Balai Laboratorium Kesehatan Mataram, dari 19 laboratorium di NTB yang mengevaluasi menggunakan preparat positif malaria, hanya 79% peteknik laboratorium yang dapat membaca preparat dengan benar. Kepentingan untuk mendapatkan diagnosis yang cepat pada penderita yang diduga menderita malaria merupakan tantangan untuk mendapatkan uji/metode laboratorik yang tepat, cepat, sensitif, mudah dilakukan, serta ekonomis.
Peranan keendemikan (endemisitas) malaria, migrasi penduduk yang cepat, serta berpindah-pindah (traveling) dari daerah endemis, secara tidak langsung mempengaruhi masalah diagnostik laboratorik maupun terapi malaria. Perubahan gambaran morfologi parasit malaria, serta variasi galur (strain), yang kemungkinan disebabkan oleh pemakaian obat antimalaria secara tidak tepat (irasional), membuat masalah semakin sulit terpecahkan bila hanya mengandalkan teknik diagnosis mikroskopis.
Ditambah lagi rendahnya mutu mikroskop dan pereaksi (reagen) serta kurang terlatihnya tenaga pemeriksa, menimbulkan kendala dalam memeriksa parasit malaria secara mikroskopis yang selama ini merupakan standar emas (gold standard) pemeriksaan laboratoris malaria.
Penelitian terbaru telah mengembangkan metode diagnostik yang dapat diperbandingkan dengan metode yang lazim (konvensional). WHO bersama para ilmuwan, ahli laboratorik, serta peklinik mengembangkan alat uji diagnostik cepat (Rapid Diagnostic Test/RDTs) yang mudah dilakukan, tepat, sensitif, dan sesuai biaya (cost-effective).
Sebagian besar RDTs malaria menggunakan asas imunokromatografi yang menggunakan antibodi monoklonal yaitu HRP-2 (Histidine Rich Protein) untuk Plasmodium falciparum dan pLDH (parasite Lactate Dehydrogenase) untuk mengetahui Plasmodium vivax sebagai indikator infeksi.
Ada beberapa antigen malaria yang dapat digunakan sebagai sasaran (target) pemeriksaan ini, yaitu: HRP-2, pLDH, dan Plasmodium aldolase. HRP-2 adalah protein larut air yang dihasilkan pada tahap aseksual dan gametosit Plasmodium falciparum dan dikeluartekankan (diekspresikan) di membran sel eritrosit. HRP-2 banyak dihasilkan oleh Plasmodium falciparum, sehingga merupakan sasaran (target) antigen utama dalam membuat uji diagnostik cepat malaria. pLDH adalah enzim glikolitik di Plasmodium sp, yang dihasilkan pada tahap seksual dan aseksual parasit.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil uji diagnostik metode imunokromatografi diperbandingkan dengan pemeriksaan laboratorik mikroskopis malaria. Diharapkan hasil penelitian ini dapat berguna dan memberikan sumbangan serta masukan bagi perkembangan teknologi diagnostik laboratoris malaria.
B.     Tujuan Penulisan
  1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui asuhan keperawatan gangguan sistem pencernaan pada anak dengan malaria.
  1. Tujuan Khusus
a.       Agar mahasiswa mampu melakukan tindakan pengkajian pada klien dengan malaria.
b.      Agar mahasiswa mampu melakukan intervensi dan implementasi pada klien dengan malaria.
c.       Agar mahasiswa mampu melakukan tindakan evaluasi pada klien dengan malaria.
C.      Manfaat
Manfaat yang diharapkan oleh penulis pada anak dengan malaria adalah sebagai berikut :
1.       Untuk masyarakat : sebagai bahan informasi untuk menambah pengetahuan kesehatan
2.       Untuk Mahasiswa : di harapkan makalah ini dapat bermanfaat sebagai bahan pembanding tugas serupa.
3.       Untuk Insatansi : agar tercapainya tingkat kepuasan kerja yang optimal
4.       Untuk tenaga kesehatan : makalh ini bisa di jadikan bahan acuan untuk melakuakan tindakan asuhan keperawatan pada kasus yang serupa.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.    Konsep Dasar Teori
1.      Pengertian/Definisi
Malaria adalah suatu penyakit infeksi yang menginvasi sistem hematologi melalui vektor nyamuk yang terinfeksi protozoa plasmodium. (Arif Muttaqin, dkk, 2011)
Malaria adalah penyakit yang bersifat akut maupun kronik yang disebabkan oleh protozoa genus plasmodium yang ditandai dengan demam, anemia dan splenomegali (Mansjoer, 2001, hal 406).
Malaria adalah infeksi parasit pada sel darah merah yang disebabkan oleh suatu protozoa spesies plasmodium yang ditularkan kepada manusia melalui air liur nyamuk (Corwin, 2000, hal 125).
Malaria adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh protozoa obligat intraseluler dari genus plasmodium (Harijanto, 2000, hal 1).
Malaria adalah penyakit infeksi dengan demam berkala, yang disebabkan oleh Parasit Plasmodium dan ditularkan oleh sejenis nyamuk Anopeles (Tjay & Raharja, 2000).
Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh plasmodium yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di dalam darah. (Ilmu Penyakit Dalam, 2009)
Penyakit malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit dari genus Plasmodium yang termasuk golongan protozoa melalui perantaraan tusukan (gigitan) nyamuk Anopheles spp. (www.depkes.go.id)
Malaria adalah penyakit akut dan dapat menjadi kronik yang disebabkan oleh protozoa (genus plasmodium) yang hidup intra sel (Iskandar Zulkarnain, 1999).
2.      Etiologi
Malaria paling sering di sebabkan oleh gigitan nyamuk spesies Anopheles betina yang terinfeksi dengan spesies dari protozoa genus plasmodium. Terdapat lima spesies paling umum yang memberikan pengaruh ceddera terhadap manusia (fernandez, 2009), yaitu sebagai berikut.
a.      Plasmodium Falcifarum
b.      Plasmodium Vivax
c.       Plasmodium Ovale
d.      Plasmodium Malariae
e.       Plasmodium Knowlesi
Plasmodium Knowlesi, baru-baru ini di identifikasi di Asia tenggara sebagai patogen bermakna secara klinis pada amanusia (Cox-Singh, 2008) (Arif Muttaqin, dkk, 2011).







Gambar 2.1 nyamuk spesies Anopheles betina

3.      Jenis-jenis Malaria
           Sesuai dengan penyebab malaria di bedakan berdasarkan jenis plasmodiumnya. (Arif Muttaqin, dkk, 2011)
JENIS MALARIA
Jenis
Penyebab
Klinis
Malaria Tropika
Plasmodium Falcifarum

Malaria tropika adalah jenis malaria yang paling berat, di tandai dengan panas yang iriguler, anemia, splenomogali, parasitemia, dan sering terjadi komplikasi. Masa inkubasi 9-14 hari. Malaria ini menyerang semua bentuk eritrosit. Plasmodium Falcifarum menyerang sel darah merah seumur hidup. Infeksi plasmodium falcifarum sering sekali menyebabkan sel darah merah yang mengandung parasit menghasilkan banyak tonjolan untuk melekat pada lapisan endotel dinding kapiler dengan akibat obstruksi trombosis dan iskemik lokal. Infeksi ini sering kali lebih berat dan infeksi lainnya dengan angka komplikasi tinggi (Murphy, 1996)
Malaria Kwartana
Plasmodium malariae
Plasmodium malariae mempunyai tropozoit yang serupa dengan plasmodium vivak, lebih kecil dan sitoplasmanya lebih kompak/lebih biru.tropozoit matur mempunyai granula coklat tua sampia hitam dan terkadang mengumpul sampai terbentuk pita. Skizon plasmodium malariae mempunyai 8-10 merozoit yang tersusun seperti kelopak bunga/rosate. Bentuk gametosit sangat mirip dengan plasmodium vivax tetapi lebih kecil. (Cunha, 2008)
Ciri-ciri demam tiga hari sekali setelah puncak 48 jam. Gejala lain adalah nyeri pada kepala dan punggung, mual, pembesaran limpa, dan melaise umum. Komplikasi jarang terjadi, namun dapat terjadi seperti sindrome nefrotik dan komplikasi terhadap ginjal lainnya. Pada pemeriksaan akan di temukan edema, asites, proteinuria, hipoproteinemia, tanpa uremia dan hipertensi (Dorsey, 2000)
Malaria Ovale
Plasmodium Ovale
Malaria tersiana (plasmodium Ovale) bentuknya mirip plasmodium malariae, skizonnya hanya mempunyai 8 merozoid dengan masa pigmen hitam di tengah. Karakteristik yang dapat di pakai untuk identifikasi adalah bentuk eritrosit yang terinfeksi plasmodium ovale dimana biasanya oval atau ireguler dan fibriated. Malaria ovale merupakan bentuk yang paling ringan dari semua bentuk malaria yang di sebabkan oleh plasmodium ovale. Masa inkubasi 11-16 hari, walaupun priode laten sampai 4 tahun. Serangan proksismal 3-4 hari dan jarang terjadi lebih dari 10 kali walaupun tanpa terapi dan terjadi pada amalam hari ( Busch, 2003)
Malaria Tersiana
Plasmodium Vivax
Malaria tersiana (plasmodium vivax) biasanya menginfeksi eritrosit muda yang diameternya lebih besar dari eritrosit noramal, bentuknya mirip dengan plasmodium falcifarum, namun seiring dengan maturasi, tropozoid vivax berubah menjadi amoeboid. Terjadi atas 12-24 merozoid ovale dan pigment kuning tengguli. Gametosit berbentuk aval hampir memenuhi seluruh eritrosit, kromatinin eksternis, pigmen kuning. Gejala malaria jenis ini secara periodik 48 jam dengan gejala klasik trias malaria dan mengakibatkan demam berkala 4 hari sekali dengan puncak demam 72 jam (karmona, 2009).






4.      Proses Kehidupan Plasmodium
                        Sebagaimana makhluk hidup lainnya, plasmodium juga melakukan proses kehidupan yang meliputi:
a.       Metabolisme (pertukaran zat).
                        Untuk proses hidupnya, plasmodium mengambil oksigen dan zat makanan dari haemoglobin sel darah merah. Dari proses metabolisme meninggalkan sisa berupa pigmen yang terdapat dalam sitoplasma. Keberadaan pigmen ini bisa dijadikan salah satu indikator dalam identifikasi.
b.      Pertumbuhan.
                        Yang dimaksud dengan pertumbuhan ini adalah perubahan morfologi yang meliputi perubahan bentuk, ukuran, warna, dan sifat dari bagian-bagian sel. Perubahan ini mengakibatkan sifat morfologi dari suatu stadium parasit pada berbagai spesies, menjadi bervariasi.Setiap proses membutuhkan waktu, sehingga morfologi stadium parasit yang ada pada sediaan darah dipengaruhi waktu dilakukan pengambilan darah. Ini berkaitan dengan jam siklus perkembangan stadium parasit. Akibatnya tidak ada gambar morfologi parasit yang sama pada lapang pandang atau sediaan darah yang berbeda.
c.       Pergerakan.
                        Plasmodium bergerak dengan cara menyebarkan sitoplasmanya yang berbentuk kaki-kaki palsu (pseudopodia). Pada Plasmodium vivax, penyebaran sitoplasma ini lebih jelas terlihat yang berupa kepingan-kepingan sitoplasma. Bentuk penyebaran ini dikenal sebagai bentuk sitoplasma amuboit (tanpa bentuk).
d.      Berkembang biak.
                        Berkembang biak artinya berubah dari satu atau sepasang sel menjadi beberapa sel baru.
5.      Karakteristik Nyamuk
Menurut Harijanto (2000) malaria pada manusia hanya dapat ditularkan oleh nyamuk betina Anopheles. Lebih dari 400 spesies Anopheles di dunia, hanya sekitar 67 yang terbukti mengandung sporozoit dan dapat menularkan malaria. Di Indonesia telah ditemukan 24 spesies Anopheles yang menjadi vektor malaria.
Sarang nyamuk Anopheles bervariasi, ada yang di air tawar, air payau dan ada pula yang bersarang pada genangan air pada cabang-cabang pohon yang besar (Slamet, 2002, hal 103). Karakteristik nyamuk Anopeles adalah sebagai berikut :
a.       Hidup di daerah tropic dan sub tropic, ditemukan hidup di dataran rendah
b.      Menggigit antara waktu senja (malam hari) dan subuh hari
c.       Biasanya tinggal di dalam rumah, di luar rumah, dan senang mengigit manusia (menghisap darah)
d.      Jarak terbangnya tidak lebih dari 2-3 km
e.       Pada saat menggigit bagian belakangnya mengarah ke atas dengan sudut 48 derajat
f.       Daur hidupnya memerlukan waktu ± 1 minggu .
g.      Lebih senang hidup di daerah rawa
6.      Faktor Host Yang Mempengaruhi Terjadinya Penyakit Malaria
a.       Umur
Anak-anak lebih rentan terhadap infeksi parasit malaria, terutama pada anak dengan gizi buruk (Rampengan T.H., 2000). Infeksi akan berlangsung lebih hebat  pada usia muda atau sangat muda karena belum matangnya system imun pada usia muda sedangkan pada usia tua disebabkan oleh penurunan daya tahan tubuh misalnya oleh karena penyakit penyerta seperti Diabetes Melitus (Weir D.M., 1987). Perbedaan angka kesakitan malaria pada berbagai golongan umur selain dipengaruhi oleh faktor kekebalan juga dipengaruhi oleh faktor lain seperti pekerjaan , pendidikan dan migrasi penduduk (Departemen Kesehatan RI,2000).



b.      Jenis kelamin
Perbedaan angka kesakitan malaria pada anak laki-laki dan perempuan dipengaruhi oleh faktor pekerjaan, migrasi penduduk dan lain-lain (Departemen Kesehatan., RI 1991).
c.       Riwayat malaria sebelumnya
Orang yang pernah terinfeksi malaria sebelumnya biasanya akan terbentuk imunitas sehingga akan lebih tahan terhadap infeksi malaria. Contohnya penduduk asli daerah endemik akan lebih tahan dibandingkan dengan transmigran yang dating dari daerah non endemis (Dachlan Y.P., 1986 : Smith, 1995 : Maitland, 1997)
d.      Ras
Beberapa ras manusia atau kelompok penduduk mempunyai kekebalan alamiah terhadap malaria, misalnya “siekle cell anemia” merupakan kelainan yang timbul karena penggantian asam amino glutamat pada posisi 57 rantai hemoglobin. Bentuk heterozigot dapat mencegah timbulnya malaria berat, tetapi tidak melindungi dari infeksi. Mekanisme perlindungannya belum jelas, diduga karena eritrosit Hb S (sickle cell train0 yang terinfeksi parasit lebih mudah rusak di system retikuloendothelial, dan/atau karena penghambatan pertumbuhan parasit akibat tekanan O2 intraeritrosit rendah serta perubahan kadar kalium intra sel yang akan mengganggu pertumbuhan parasit atau karena adanya akulasi bentuk heme tertentu yang toksik bagi parasit (Nugroho A., 2000). Selain itu penderita ovalositosis (kelainan morfologi eritrosit berbentuk oval) di Indonesia banyak terdapat di Indonesia bagian timur dan sedikit di Indonesia bagian barat. Prevalensi ovalosis mulai dari 0,25 % (suku Jawa) sampai 23,7 % suku Roti (Setyaningrum, 1999).
e.       Kebiasaan
Kebiasaan sangat berpengaruh terhadap penyebaran malaria. Misalnya kebiasaan tidak menggunakan kelambu saaat tidur dan senang berada diluar rumah pada malam hari. Seperti pada penelitian di Mimiki Timur, Irian Jaya ditemukan bahwa kebiasaan penduduk menggunakan kelambu masih rendah (Suhardja, 1997)
f.       Status gizi
Status gizi ternyata berinteraksi secara sinergis dengan daya tahan tubuh. Makin baik status gizi seseorang, makin tidak mudah orang tersebut terkena penyakit . Dan sebaliknya makin rendah status gizi seseorang makin mudah orang tersebut terkena penyakit (Nursanyoto, 1992).
Pada banyak penyakit menular terutama yang dibarengi dengan dengan demam, terjadi banyak kehilangan nitrogen tubuh. Nitorgen tubuh diperoleh dari perombakan protein tubuh. Agar seseorang pulih pada keadaan kesehatan yang normal, diperlukan peningkatan dalam protein makanan. Penting diperhatikan pula bahwa fungsi dari dari semua pertahanan tubuh membutuhkan kapasitas sel-sel tubuh untuk membentuk protein baru. Inilah sebabnya maka setiap defesiensi atau ketidak seimbangan zat makanan yang mempengaruhi setiap system protein dapat pula menyebabkan gangguan fungsi beberapa mekanisme pertahanan tubuih sehingga pada umumnya melemahkan resistensi host. Malnutrisi selalu menyebabkan peningkatan insiden penyakit-penyakit infeksi dan terhadap penyakit yang sudah ada dapat meningkatkan keparahannya (Maria, 1992).
g.      Sosial ekonomi
Faktor social ekonomi sangat berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mencukupi kebutuhan dasarnya seperti : sandang, pangan dan papan. Semakin tinggi sosisla ekonomi seseorang semakin mudah pula seseorang mencukupi segala kebutuhan hidupnya  termasuk di dalamnya kebutuhan akan pelayanan kesehatan, makanan yang bergizi serta tempat tinggal yang layak dan lain-lain . Menurut Biro Pusat Statistik, semakain tinggi status social ekonomi seseorang maka pengeluaran cenderung bergeser dari bahan makanan ke bahan non makanan. Jadi faktor social ekonomi seperti kemiskinan, harga barang yang tinggi, pendapatan keluarga rendah, dan produksi makanan rendah merupakan resiko untuk terjangkitnya malaria (Wirjatmadi B., 1985).
h.      Immunitas
Immunitas ini merupakan suatu pertahanan tubuh. Masyarakat yang tinggal di daerah endemis malaria biasanya mempunyai imunitas yang alami sehingga mempunyai pertahanan alam terhadap infeksi malaria.
7.      Patofisiologi
Pasien malaria biasanya memperoleh infeksi di daerah endemik melalui gigitan nyamuk. Vektor, spesies nyamuk Anopheles, melewati plasmodia, yang terkandung dalam air liur masuk ke dalam tubuh manusia saat nyamuk tersebut menghisap darah
Hasil infeksi tergantung pada imunitas host. Individu dengan kekebalan dapat secara spontan menghapus parasit. Pada mereka yang tidak memiliki kekebalan, parasit, memperluas infeksi. Sejumlah kecil parasit menjadi gametocytes, yang mengalami reproduks, seksual ketika diisap oleh nyamuk. Hal ini dapat berkembang menjadi infeksi sporozoites. yang terus berkembang menjadi siklus transmisi baru setelah menggigit ke dalam host baru. Secara garis besar semua jenis plasmodium memiliki siklus hidup yang sama yaitu tetap sebagian di tubuh manusia dan sebagian di tubuh nyamuk.



Kondisi masuknya sporozit ke dalam tubuh manusia, maka akan terjadi siklus malaria yang terdiri atas siklus eksoeritrosit, siklus eritrosit, dan siklus sporogonik (CDC, 2009).

a.       Siklus eksoeritrosit.
Siklus ini terjadi di dalam tubuh manusia dan terjadi di dalam hati. Penularan terjadi bila nyamuk betina yang terinfeksi parasit, menyengat manusia dan dengan ludahnya memasukkan sporozoit ke dalam peredaran darah yang untuk selanjutnya bermukim pada sel hepatosit di parenkim hati. Parasit tumbuh dan mengalami pembelahan. Setelah 6-9 hari skizon menjadi dewasa dan pecah dengan melepaskan beribu-ribu merozoit. Sebagian merozoit memasuki sel-sel darah merah dan berkembang di sini menjadi trofozoit. Sebagian lainnya memasuki jaringan lain, antara lain limpa atau diam di hati. Dalam waktu 48-72 jam, sel-sel darah merah pecah dan merozoit yang dilepaskan dapat memasuki siklus dimulai kembali.
b.      Siklus eritrosit.
Fase eritrosit dimulai dan merozoid dalam darah menyerang eritrosit membentuk tropozoid. Proses berlanjut menjadi trofozoit-skizonmerozoit. Setelah 2-3 generasi merozoit dibentuk, sebagian merozoit berubah menjadi bentuk seksual. Masa antara permulaan infeksi sampai ditemukannya parasit dalam darah tepi adalah masa prapaten, sedangkan masa tunas dimulai dari masuknya sporozoit dalam badan hospes sampai timbulnya gejala klinis demam.
c.       Siklus sporogonik.
Siklus ini terjadi di dalam tubuh nyamuk (sporogoni). Setelah beberapa siklus, sebagian merozoit di dalam eritrosit dapat berkembang menjadi bentuk-bentuk seksual jantan dan betina. Gametosit ini tidak akan berkembang lalu mati bila tidak diisap oleh Anopheles betina. Di dalam lambung nyamuk terjadi penggabungan dari gametosit jantan dan betina menjadi zigot, yang kemudian melakukan penetrasi pada dinding lambung dan berkembang menjadi okista. Dalam waktu 3 minggu, sporozoit kecil akan memasuki kelenjar ludah nyamuk.
Di dalam vaskular, protozoa bereplikasi di dalam sel dan menginduksi sitolisis sel darah merah menyebabkan pelepasan produk metabolik toksik ke dalam aliran darah dan memberikan gejala, seperti menggigil, sakit kepala, mialgia, dan malaise. Kondisi ini terjadi dalam siklus eritrosit. Parasit juga dapat menyebabkan ikterus dan anemia. Plasmodium. falciparum merupakan jenis yang paling berbahaya dari lima spesies plasmodium karena dapat menyebabkan gagal ginjal, koma, dan kematian. Kematian akibat malaria dapat dicegah. jika perawatan yang tepat dicari dan diimplementasikan.
Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale dapat menghasilkan bentuk yang tidak aktif tetapi masih tetap ada dalam hati orang yang terinfeksi dan muncul di lain waktu.
Parasit memperoleh energi mereka semata-mata dari glukosa dan mereka mencernanya 70 kali lebih cepat dari sel darah merah yang mereka tempati sehingga menyebabkan insufisiensi insulin (Gambar 2.2) yang akan memberikan manifestasi penurunan intake glukosa jaringan. Kondisi ini akan memberikan dampak terhadap hipoglikemia intrasel dan ekstrasel.




Hipoglikemia intrasel akan dilanjutkan dengan respons peningkatan glukogenesis dan glukoneogenesis yang memberikan manifestasi pemecahan lemak dan perubahan sintesis protein. Peningkatan pemecahan lemak akan meningkatkan produksi keton yang juga akan meningkatkan risiko terjadinya ketoasidosis diabetikum. Perubahan sintesis protein akan meningkatkan risiko kaheksia, letargi, dan terjadi penurunan gama globulin yang juga meningkatkan risiko infeksi akibat kerusakan jaringan kulit.
Pada hipoglikemi ekstrasel akan memberikan manifestasi peningkatan osmotik plasma dan peningkatan pengeluaran glukosa oleh ginjal. Pada kondisi peningkatan osmotik plasma akan terjadi dehidrasi sel yang berlanjut pada koma hiperglikemi. Respons dari peningkatan pengeluaran glukosa oleh ginjal akan menyebabkan diuresis osmotik dengan manifestasi poliuri, polidipsi, hipokalemi, dan hiponatremi.
Plasmodia juga menyebabkan lisis dari sel darah merah (baik yang terinfeksi dan yang tidak terinfeksi), penekanan proses hematopoiesis, dan peningkatan pembersihan sel darah merah oleh limpa yang menyebabkan kondisi anemia serta splenomegali. Seiring waktu, malaria dan infeksi juga dapat menyebabkan trombositopenia.
Kondisi malaria akan memberikan berbagai masalah keperawatan yang muncul pada pasien (Gambar 2.3) dan memberikan implikasi pada asuhan keperawatan. Masalah keperawatan yang muncul berhubungan dengan pelepasan produk metabolik toksik ke dalam aliran darah yang memberikan berbagai manifestasi pada respons sistemik, respons intestinal, respons sistem saraf pusat, respons kardiorespirasi, dan muskuloskeletal.



8.      Pathway






9.      Komplikasi
Komplikasi yang lazim terjadi pada malaria terutama yang disebabkan oleh Plasmodium falcifarum adalah sebagai berikut.
a.       Koma (malaria serebral).
Koma pada malaria meliputi kondisi penurunan kesadaran, perubahan status mental, dan kejang. Kondisi koma malaria merupakan kondisi paling umum yang menyebabkan kematian pada pasien dengan penyakit malaria. Jika tidak diobati, komplikasi ini sangat mematikan. Gejala malaria serebral mirip dengan ensefalopati toksik.
b.      Kejang (sekunder baik untuk hipoglikemia atau serebral malaria).
c.       Gagal ginjal akut.
Sebanyak 30% dari orang dewasa yang terinfeksi dengan Plasmodium falciparum menderita gagal ginjal akut (Hanson, 2009).
d.      Hipoglikemia.
e.       Hemoglobinuria (blackwater fever).
Kondisi hemoglobinuria ditandai dengan urine sangat gelap yang merupakan manifestasi dari hemolisis, hemoglobinemia yang berlanjut pada hemoglobinuria dan hemozoinuria.
f.       ARDS, edema paru nonkardiogenik.
Kondisi ini paling sering terjadi pada wanita hamil dan menyebabkan kematian pada 80% pasien (Perez-Jorge, 2009). •
g.      Anemia.
h.      Pendarahan (koagulopati).
10.  Manifestasi Klinis
a.       Plasmodium vivax ( malaria tertiana )
1)      Meriang
2)      Panas dingin menggigil/ demam ( 8 sampai 12 jam, dapat terjadi dua hari sekali setelah gejala pertama terjadi dapat terjadi selama 2 minggu setelah infeksi)
3)      Keringat dingin
4)      Kejang-kejang
5)      Perasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi.
b.      Plasmodium falcifarum ( malaria tropika )
1)      Meriang
2)      Panas dingin menggigil/ demam ( lebih dari 12 jam, dapat terjadi dua hari sekali setelah gejala pertama terjadi dapat terjadi selama 2 miggu setelah infeksi)
3)      Keringat dingin
4)      Kejang-kejang
5)      Perasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi.
c.       Plasmodium malariae ( malaria kuartana )
1)      Meriang
2)      Panas dingin menggigil/ demam ( gejala pertama tidak terjadi antara 18 sampai 40 hari setelah infeksi terjadi. Gejala tersebut kemudian akan terulang kembali setiap 3 hari )
3)      Keringat dingin
4)      Kejang-kejang
5)      Perasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi
d.      Plasmodium ovale ( jarang ditemukan ).
Dimana manifestasi klinisnya mirip malaria tertiana :
1)      Meriang
2)      Panas dingin menggigil/ demam ( 8 sampai 12 jam, dapat terjadi dua hari sekali setelah gejala pertama terjadi dapat terjadi selama 2 minggu setelah infeksi)
3)      Keringat dingin
4)      Kejang-kejang
5)      Perasaan lemas, tidak nafsu makan, sakit pada tulang dan sendi.
11.  Pemeriksaan diagnostik
a.      Pemeriksaan mikroskopis malaria
               Diagnosis malaria sebagai mana penyakit pada umumnya didasarkan pada manifestasi klinis (termasuk anamnesis), uji imunoserologis dan ditemukannya parasit (plasmodium) di dalam penderita. Uji imunoserologis yang dirancang dengan bermacam-macam target dianjurkan sebagai pelengkap pemeriksaan mikroskopis dalam menunjang diagnosis malaria atau ditujukan untuk survey epidemiologi di mana pemeriksaan mikrokopis tidak dapat dilakukan.
               Diagnosis definitif demam malaria ditegakan dengan ditemukanya parasit plasmodium dalam darah penderita. Pemeriksaan mikrokropis satu kali yang memberi hasil negatif tidak menyingkirkan diagnosis deman malaria. Untuk itu diperlukan pemeriksaan serial dengan interval antara pemeriksaan satu hari.
               Pemeriksaan mikroskropis membutuhkan syarat-syarat tertentu agar mempunyai nilai diagnostik yang tinggi (sensitivitas dan spesifisitas mencapai 100%).
1)      Waktu pengambilan sampel harus tepat yaitu pada akhir periode demam memasuki periode berkeringat. Pada periode ini jumlah trophozoite dalam sirkulasi dalam mencapai maksimal dan cukup matur sehingga memudahkan identifikasi spesies parasit.
2)      Volume yang diambil sebagai sampel cukup, yaitu darah kapiler (finger prick) dengan volume 3,0-4,0 mikro liter untuk sediaan tebal dan 1,0-1,5 mikro liter untuk sedian tipis.
3)      Kualitas perparat harus baik untuk menjamin identifikasi spesies plasmodium yang tepat.
4)      Identifikasi spesies plasmodium
5)      Identifikasi morfologi sangat penting untuk menentukan spesies plasmodium dan selanjutnya digunakan sebagai dasar pemilihan obat.
b.      QBC (Semi Quantitative Buffy Coat)
               Prinsip dasar: tes floresensi yaitu adanya protein pada plasmodium yang dapat mengikat acridine orange akan mengidentifikasi eritrosit terinfeksi plasmodium. QBC merupakan teknik pemeriksaan dengan menggunakan tabung kapiler dengan diameter tertentu yang dilapisi acridine orange tetapi cara ini tidak dapat membedakan spesies plasmodium dan kurang tepat sebagai instrumen hitung parasit.
c.       Pemeriksaan imunoserologis
               Pemeriksaan imunoserologis didesain baik untuk mendeteksi antibodi spesifik terhadap paraasit plasmodium maupun antigen spesifik plasmodium atau eritrosit yang terinfeksi plasmodium teknik ini terus dikembangkan terutama menggunakan teknik radioimmunoassay dan enzim immunoassay.
d.      Pemeriksan Biomolekuler
               Pemeriksaan biomolekuler digunakan untuk mendeteksi DNA spesifik parasit/ plasmodium dalam darah penderita malaria.tes ini menggunakan DNA lengkap yaitu dengan melisiskan eritrosit penderita malaria untuk mendapatkan ekstrak DNA.
12.  Penatalaksanaan
           Penatalaksanaan khusus pada kasus- kasus malaria dapat diberikan tergantung dari jenis plasmodium, menurut Tjay & Rahardja (2002) antara lain sebagai berikut :
a.       Malaria Tersiana/ Kuartana
                        Biasanya di tanggulangi dengan kloroquin namun jika resisten perlu di tambahkan mefloquin single dose 500 mg p.c (atau kinin 3 dd 600 mg selama 4-7 hari). Terapi ini disusul dengan pemberian primaquin 15 mg /hari selama 14 hari)
b.      Malaria Ovale
                        Berikan kinin dan doksisklin (hari pertama 200 mg, lalu 1 dd 100 mg selama 6 hari). Atau mefloquin (2 dosis dari masing-masing 15 dan 10 mg/ kg dengan interval 4-6 jam). Pirimethamin-sulfadoksin (dosis tunggal dari 3 tablet ) yang biasanya di kombinasikan dengan kinin (3 dd 600 mg selama 3 hari).
c.       Malaria Falcifarum
                        Kombinasi sulfadoksin 1000 mg dan pirimetamin 25 mg per tablet dalam dosis tunggal sebanyak 2-3 tablet. Kina 3 x 650 mg selama 7 hari. Antibiotik seperti tetrasiklin 4 x 250 mg/ hari selama 7-10 hari dan aminosiklin 2 x 100 mg/ hari selama 7 hari

























B.     Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1.      Pengkajian
a)    Anamnesa
Keluhan utama pada pasien malaria bervariasi sesuai dengan siklus yang terjadi di dalam tubuh pasien. Pada pengkajian, perawat mungkin mendapatkan keluhan utama demam. Serangan klasik demam tiba-tiba dimulai dengan periode menggigil yang berlangsung selama sekitar 1-2 jam dan diikuti dengan demam tinggi. Setelah itu akan terjadi penurunan suhu tubuh secara berlebihan disertai diaforesis dan suhu tubuh pasien turun menjadi normal atau di bawah normal. Menurut Dorsey (2000) terdapat trias klasik malaria yang terbagi dalam 3 periode. (Arif Muttaqin, dkk, 2011)
Trias Klasik Malaria (Malaria Proxysm)
Fase
Klinis
Fase dingin
Pada fase ini pasien terlihat menggigil dan kedinginan, pasien sering membungkus diri dengan selimut dan pada saat menggigil disertai badan bergetar, pucat sampai sianosis. Fase ini berlangsung 15 menit sampai 1 jam diikuti dengan meningkatnya temperatur
Fase hipertermi
Perubahan integumen dengan muka menjadi merah, kulit ppanas dan kering. Perubahan TTV dengan nadi cepat dan panas tetap tinggi sampai 400C atau lebih, respirasi meningkat. Perubahan sistemik dengan adanya nyeri kepala, mual-muntah, gejala syok (takanan darah menurun), penurunan tingkat kesadaran menjadi delirium dan kejang. Fase ini lebih lama dari fase dingin, dapat sampai 2 jamatau lebih, di ikuti dengan keadaan berkeringat.
Fase diaforesis
Pasien berkeringat mulai dari kening, di ikuti seluruh tubuh, sampai basah sampai seluruh tubuh, temperatur turun, pasien kemudian keletihan dan kemudian tertidur. Bila pasien bangun akan merasa sehat dan dapat melakukan aktivitas rutin seperti biasa.
(Dimodifikasi dari Dorsey G, Gandhi M, Oyugi JH, Rosenthai PJ., 2000)

Keluhan klinis sistemik secara umum yang mengikuti, meliputi batuk, cepat letih, malaise, nyeri otot (mialgia), nyeri sendi (artralgia), dan peningkatan produksi keringat (setiap 48 atau 72 jam, tergantung pada spesies). Keluhan sistemik lainnya bisa didapatkan adanya anoreksia dan letargi, mual dan muntah, sakit kepala, serta ikterus mungkin didapatkan pada beberapa kasus.
Pada riwayat kesehatan, pengkajian awal yang penting bagi perawat untuk ditanyakan adalah apakah pasien pernah pergi atau diam di tempat endemik malaria. Kebanyakan pasien tinggal di atau baru saja bepergian ke daerah endemik, namun beberapa kasus dilaporkan setiap tahun di mana pasien tidak memiliki riwayat perjalanan tersebut (misalnya kendaraan daran atau air yang pernah singgah atau melewati daerah endemik).
Pengkajian lainnya adalah untuk menentukan status kekebalan pasien, seperti umur, alergi, kondisi-kondisi medis lainnya, obat lain, dan status kehamilan.
Pengkajian psikososial terutama ditujukan dalam penurunan kecemasan dan pemenuhan informasi.
b)   Pemeriksaan Fisik
Secara umum pasien terlihat sangat sakit, terdapat perubahan status kesadaran yang semakin menurun sesuai dengan tingkat keaktifan kuman dalam tubuh. TTV biasanya mengalami perubahan seperti takikardia, hipertermi, peningkatan frekuensi napas, dan penurunan tekanan darah.
Bl      : Fungsi pernapasan biasanya tidak ada masalah, tetapi pada malaria falcifarum dengan komplikasi akan didapatkan adanya perubahan takipnu dengan penurunan kedalaman pernapasan, serta napas pendek pada istirahat dan aktivitas.
B2     : Pada fase demam akan didapatkan takikardia, tekanan darah menurun, kulit hangat, dan diuresis (diaforesis) karena vasodilatasi. Pucat dan lembap berhubungan dengan adanya anemia, hipovolemia, dan penurunan aliran darah. Pada pasien malaria dengan komplikasi berat sering didapatkan adanya tanda-tanda syok hipovolemik dan tanda DIC.
B3     : Sistem neuromotorik biasanya tidak ada masalah. Pada beberapa kasus pasien terkihat gelisah dan ketakutan. Pada kondisi yang lebih berat akan didapatkan adanya perubahan tingkat kesadaran dengan manifestasi disorientasi, delirium, bahkan koma. Pada beberapa kasus pasien dengan adanya perubahan elektrolit sering didapatkan adanya kejang.
B4     : Sistem perkemihan biasanya tidak masalah, tetapi pada saat fase demam didapatkan adanya penurunan produksi urine, sedangkan pada fase lanjut didapatka adanya poliuri sekunder dari perubahan glukosa darah.
B5     : Pada inspeksi didapatkan gangguan pencernaan, seperti mual dan muntah, diare atau konstipasi. Pada auskultasi didapatkan penurunan bising usus. Pada perkusi didapatkan adanya timfani abdomen. Pada palpasi abdomen sangat sering didapatkan acaura splenomegali.
B6     : Pada pengkajian integumen didapatkan adanya tanda-tanda anemia dan ikterus. Pada pemeriksaan muskuloskeletal didapatkan adanya keletihan dan kelemahan fisik umum, malaise, dan penurunan kekuatan otot.
c)    Pemeriksaan Diagnostik
1)   Pemeriksaan imunoserologis.
                        Pemeriksaan  imunoserologis  didesain  baik  untuk  mendeteksi  antibody spesifik terhadap parasit plasmodium maupun antigen spesifik plasmodium atau eritrosit yang terinfeksi plasmodium. Teknik ini terus dikembangkan terutama menggunakan radio immunoassay dan enzim immunoassay.
2)   Pemeriksan Biomolekuler.
                        Pemeriksaan biomolekuler digunakan untuk mendeteksi DNA spesifik parasit/plasmodium dalam darah penderita malaria. Tes ini menggunakan DNA lengkap, yaitu dengan melisiskan eritrosit penderita malaria untuk mendapatkan ekstrak DNA.
d)   Penatalaksanaan Medis
Intervensi medis disesuaikan dengan kondisi klinis pada pasien malaria. Tujuan pemberian terapi, meliputi hal-hal sebagai berikut.
1)   Intervensi darurat.
·         Rehidrasi dengan pemberian IVFD.
·         Tranfusi RBC (red blood cells)
·         Mengatasi hiponatremi dan hipokalemi.
·         Monitor dan mengobati hipoglikemia.
·         Monitor kasus malaria dengan penurunan daya tahan tubuh (pada anak-anak, kehamilan, imunodefisiensi).
·         Perawatan di ruang intensif (koagulopati atau kegagalan organ akhir, malaria serebral, penurunan kesadaran, kejang berulang, koma).
2)   Terapi malaria.
·         Malaria Tersiana/Kuartana.
Biasanya ditanggulangi dengan kloroquin, namun jika pasien resisten perlu ditambahkan mefloquin dosis tunggal 500 mg p.c (atau kinin 3 dd 600 mg selama 4-7 hari). Terapi ini disusul dengan pemberian primaquin 15 mg/hari selama 14 hari).
·         Malaria Ovale. .   
Berikan kinin dan doksisklin (hari pertama 200 mg, lalu 1 dd 100 mg selama 6 hari) atau mefloquin (2 dosis dari masing-masing 15 dan 10 mg/kg dengan interval 4-6 jam). Pirimethamin-sulfadoksin (dosis tunggal dari 3 tablet) yang biasanya dikombinasikan dengan kinin (3 dd 600 mg selama 3 hari).
·         Malaria falcifarum.
Kombinasi sulfadoksin 1000 mg dan pirimetamin 25 mg per tablet dalam dosis tunggal sebanyak 2-3 tablet. Kina 3 x 650 mg selama 7 hari. Antibiotik seperti tetrasiklin 4 x 250 mg/ hari selama 7-10 hari dan aminosiklin 2 x 100 mg/hari selama 7 hari.
e)    Analisa Data
Symtom
Etiologi
Masalah
Ds :
·         Klien biasanya mengeluh badannya panas
·         Orangtua Klien biasanya mengatakan panasnya kurang lebih 2-4 hari dirumah
·         Klien biasanya susah tidur
Do :
·         Keadan umum : lemah
·         Wajah pasien biasanya kemerahan dan suhu tubuhnya 39,50C
·         Nadi : 98 x / menit
·         Pernapasan : 28 X /menit
Pelepasan produksi metabolik toksik kedalam aliran darah
Respon inflamasi sistemik
Hipertermi
Hipertermi
Ds :
·         Klien biasanya mengeluh pusing.
Do :
·         Klien akan terlihat sesak dan pucat
·         Suhu 39,5-400C
Anemia hipovolemi
Penurunan aliran darah dan penurunan imunitas
Penurunan perfusi jaringan
Penurunan perfusi jaringan
Ds :
Klien biasanya mengeluh nyeri kepala dan mual.
Do :
·         Klien akan terlihat gelisah
·         Suhu 39,5-400C
·         Klien biasanya terlihat lemas dan keringat dingin
Anemia hipovolemi
Penurunan aliran darah dan penurunan imunitas
Resiko tinggi gangguan elektrolit
Resiko tinggi gangguan elektrolit
Ds :
·         Klien biasanya mengatakan tidak ada nafsu buat makan
Do :
·         Klien akan terlihat kurus dan lemas.
·         Porsi makanan yang disediakan, biasanya hanya ¼ porsi yang dihabiskan
·         Berat badan pasien biasanya menurun dari sebelumnya.
Respon intestinal
Mual, muntah, anoreksia dan penurunan motilitas
↓intake nutrisi tidak adekuat konstipasi
Nutrisi kurang darikebutuhan tubuh
Nutrisi kurang darikebutuhan tubuh
Ds :
·         Klien biasanya mengeluh badannya panas
Do :
·         Biasanya leukosit dalam batas tidak normal
·         Suhu badan : 39,50C
·         Nadi : 98 x/menit
·         Pernapasan : 28 X/menit
·         Kulit biasanya tanpak kotor
Anemia hipovolemi
Penurunan aliran darah dan penurunan imunitas
Resiko infeksi
Resiko infeksi
Ds :
·         Klien biasanya mengeluh nyeri pada seluruh badan
·         Klien biasanya mengatakan badanya terasa lemas
Do :
·         Klien akan terlihat gelisah
·         Tidur kurang dari 6 jam
·         Sering terjaga
Resiko inflamasi sitemik
Mialgia dan Artralgia
Nyeri
Nyeri
Ds :
·         Orang tua biasanya bertanya – tanya tentang penyakit anaknya.
·         Orang tua akan mengatakan khawatir tentang penyakit anaknya.
Do :
·         Klien akan terlihat cemas atau ketakutan
·         Klien akan tampak gelisah.
·         Orang tua biasanya tampak gelisah.
Invasi kuman ke hepatosit
Malaria
Respon psikososial
Cemas
Cemas

2.      Diagnosa Keperawatan
a)      Hipertermia b/d  peningkatan metabolisme, dehidrasi, efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus.
b)      Perubahan perfusi jaringan b/d anemia, penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrien dalam tubuh.
c)      Aktual/resiko tinggi gangguan elektrolit (hiponatremi, hipokalemi) b/d diuresis osmotik, diaforesis
d)     Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake makanan yang tidak adekuat, anoreksia, mual/muntah.
e)      Resiko tinggi infeksi b/d penurunan sistem kekebalan tubuh
f)       Nyeri dan ketidaknyamanan b/d resfon inflamasi sistemik, mialgia, artralgia, diaforesis.
g)      Kecemasan b/d kondisi sakit, prognosis penyakit malaria falciparum
h)      Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurangnya pemajanan, kesalahan interprestasi informasi, keterbatasan kognitif.
3.      Rencana Keperawatan
Hipertermia b/d  peningkatan metabolisme, dehidrasi, efek langsung sirkulasi kuman pada hipotalamus.
Tujuan : dalam waktu 1 x 24 jam terjadi penurunan suhu tubuh
Kriteria Hasil :
1.      Klien mampu menjelaskan kembali pendidikan kesehatan yang di berikan
2.      Klien mampu termotivasi untuk melaksanakan penjelasan yang telah di berikan
Intervensi
Rasional
Evaluasi TTV pada setiap pergantian sif atau setiap ada keluhan dari klien
Sebagai pengawasan terhadap adanya perubahan keadaan umum klien sehingga dapat di lakukan penanganan dan perawatan secara cepat dan tepat
Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang cara menurunkan suhu tubuh
Sebagai data dasar untuk memberikan intervensi selanjutnya.
Lakuakan tirah bafring total
Penurunan aktivitas akan menurunkan laju metabolisme yang tinggi pada fase akut, dengan demikian akan membantu menurunkan suhu tubuh
Beri kompres dengan hangat pada daerah aksila, lipat paha dan temporal bila terjadi panas
Dapat membentu mengurangi demam, penggunaan es/alkohol mungkin dapat menyebabkan kedinginan dan menggigil. Selain itu, alkohol dapat mengeringkan kulit.
Anjurkan klien untuk memakai pakaian yang menyerap keringat seperti katun.
Pengeluaran suhu tubuh seecara evaporasii berkisar 22% dari pengeluaran suhu tubuh. Pakaian yang mudah menyerap keringan sangat efektif meningkatkan efek dari evaporasi.
Anjurkan keluarga untuk melakukan masase pada ekstermitas.
Masase di lakukan untuk meningkatkan aliran darah ke perifer dan terjadi vasodilatasi perifer yang akan meningkatkan efek evaporasi. Penggunaan cairan penghangat seperti minyak kayu putih dapat digunakan untuk meningkatkan efektivitas intervensi masase.
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antipiretik.
Antipiretik bertujuan untuk memblok respons panas sehingga suhu tubuh klien dapat lebih cepat menurun.

Perubahan perfusi jaringan b/d anemia, penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrien dalam tubuh.
Tujuan : dalam waktu 2 x 24 jam terjadi penurunan tingkat kesadaran dan dapat mempertahankan Cardiac Output secara adekuat guna meningklatkan perfusi jaringan.
Kriteria Hasil :
1.      Klien tidak mengeluh pusing
2.      TTV dalam batas normal, tidak terjadi sesak, mual dan muntahtanda diaforesis dan pucat/sianosis hilang, akral hangat, kulit segar, produksi urine >30 ml/jam, respon verbal baik, EKG Normal.
Intervensi
Rasional
Kaji status mental klien secara teratur.
Mengetahui derajat hipoksia pada otak.
Pertahankan tirah baring bantu dengan aktivitas perawatan.
Menurunkan kerja miokard dan konsumsi oksigen, memaksimalkan efektivitas dari perfusi jaringan.
Panatau terhadap kecendrungan tekanan darah, mencatat perkembangan hipotensi, dan perubahan pada tekanan nadi.
Hipotensi akan berkembangbersamaan dengan kuman yang menyerang darah.
Perhatikan kualitas dan kekuatan dari denyut perifer.
Pada awalnya nadi cepat dan kuat karena peningkatan curah jantung, nadi dapat lemah atau lambat karena hipotensi yang terus menerus, penurunan curah jantung dan vasokontriksi perifer.
Observasi perubahan sensori dan tingkat kesadran pasien yang menunjukkan penurunan perfusi otak (gelisah, Confuse/bingung, apatis, samnolen).
Bukti aktual terhadap penurunan aliran darah ke jaringan serebral adalah adanya perubahan respons sensori dan penurunan tingkat kesadaran pada fase akut. Adanya kegagalan harus di lakuakan monitoring yang ketat.
Kurangi aktivitas yang merangsang timbulnya respons valsava / aktivitas.
Respons valsava akan meningkatkan beban jantung sehingga akan menurunkan curah jantung ke otak.
Catat adnya keluhan pusing
Keluhan pusing merupakan manifestasi penurunan suplai darah ke jaringan otak.
Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain dalam pemberian transfusi darah PRC (packed red cells).
Jalur yang paten penting untuk pemenuhan lisis darah sebagai intervensi kedaruratan.

Aktual/resiko tinggi gangguan elektrolit (hiponatremi, hipokalemi) b/d diuresis osmotik, diaforesis
Tujuan : dalam waktu 1 x 24 jam tidak terjadi hiponatremi atau kondisi hiponatremi dan hipokalemi dapat teratasi.
Kriteria Hasil :
1.      Klien tidak gelisah, klien tidak mengeluh nyeri kepal, mual dan muntah, GCS : 4, 5, 6.
2.      TTV dalam batas normal.
3.      Klien tidak mengalami defisit neurologis.
Intervensi
Rasional
Kaji faktor penyebab dari situasi atau keadaan individu dan faktor-faktor yang dapat menurunkan osmolalitas serum.
Kehilangan natrium yang mengakibatkan defletional hyponatremia dapat disebabkan oleh mekanisme ginjal dan nonginjal. Kehilangn garam melalui nonginjal terjadi pada kehilangan volume cairan seperti pada muntah, diare, atau diaforesis yang berlebihan.
Monitor temperatur dan pengaturan suhu lingkungan.
Panas merupakan refleks dari hipotalamus. Peningkatan kebutuhan metabolisme dan oksigen akan menunjang peningkatan TIK/ICP (Intracranial Pressure).
Bantu pasien untuk membatasi muntah dan batuk. Anjurkan pasien untuk mengeluarkan napas apbila bergerak atau berbalik di tempat tidur.
Aktivitas ini dapat meningkatkan tekanan intrkarnial dan intraabdominal. Mengeluarkan nafas sewaktu bergerak atau mengubah posisi dapat melindungi diri dari efek valsava.
Perttahankan kepala/leher pada posisi yang netral, usahakan dengan sedikit bantal. Hindari penggunaan bantal yang tinggi pada kepala.
Perubahan kepala pada satu sisi dapat menimbulakan penekanan pada vena jugularis dan menghambat aliran darah otak sehingga dapat meningkatkan tekanan intrakarnial.
Bantu pasien jika batuk atau muntah.
Aktivitas ini dapat meningkatkan intratoraks atau tekanan dalam toraks dan tekanan pada abdomen dimana aktivitas ini dapat meningkatkan tekanan TIK.
Observasi tingkat kesadaran  dengan GCS.
Perubahan kesadaran menunjukkan peningkatan TIK dan berguna menentukan lokasi dan perkembangan penyakit.
Kolaborasi :
·    Pemberian oksigen sesuai indikasi


·    Berikan cairan intrvena jenis NaCL

·    Berikan obat deuretik osmotic contohnya : mannitol, furoscide

·      Mengurangi hipoksemia, dimana dapat meningkatkan vasodilatasi cerebral dan volume darah dan menaikkan TIK.
·      Pemenuhan natrium secara intravena akan meningkatkan kadar natrium ke sirkulasi otak
·      Diuretik mungkin digunakan pada fase akut untuk mengalirkan air dari brain cells dan mengurangi  edema cerebral dan TIK.
Memonitor tanda-tanda vital tiap 4 jam.
Adanya perubahan TTV secara cepat dapat menjadi pencetus aritmia pada klien hipokalemi.
Berikan diet sumber kalium
Sumber-sumber kalium termasuk buah dan sari buah, sayur-sayuran segardan beku,daging segar,dan makanan olahan. Sementara itu pisang, aprikot, jeruk, avokad, kacang-kacangan, kismis, kentang merupakan pengganti garam yang mengandung 50 sampai 60 mEq kalium.

Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d ketidakadekuatan intake nutrisi sekunder dari nyeri, ketidaknyamanan lambung dan intestinal
Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam klien akan mempertahankan kebutuhan nutrisi yang adekuat.
Kriteria Hasil :
1.      Membuat pilihan diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam situasi individu,menunjukkan peningkatan BB.
Intervensi
Rasional
Kaji pengetahuan klien tentang intake nutrisi
Tingkat pengetahuandipengaruhi olehkondisi sosial ekonomi klien. Perawat menggunakan pendekatan yang sesuai dengan kondisi individu klien. Dengan mengetahui tingkat pengetahuan tersebut, perawat dapat lebih terarah dalam memberikan pendidikan yang sesuai dengan pengetahuan klien secara efesien dab efedktif.
Kaji riwayat nutrisi termasuk makanan yang disukai. Observasi dan catat masukan makanan pasien.
Peran perawat dalam mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan.
Diskusikan yang disukai klien dan masukan dalam diet murni.
Dapat meningkatkan masukan, meningkatkan rasa berpartisipasi atau kontrol.
Observasi dan catat kejadian mual atau muntah dan gejala lain yang berhubungan.
gejalaGI dapat menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ.
Monitor perkembangan berat badan.
Penimbangan berat badan dilakuakan sebagai evaluasi terhadap intervensi yang di berikan.

Resiko tinggi infeksi b/d penurunan sistem kekebalan tubuh
Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam tidak terjadi infeksi berhubungan dengan penurunan sistem kekebalan tubuh.
Kriteria Hasil :
1.      Tidak terdapat tanda-tanda infeksi dan peradanganm sistemik
2.      Leukosit dalam batas normal
3.      TTV dalam batas normal.
Intervensi
Rasional
Pantau terhadap kecendrungan peningkatan suhu tubuh.
Demam yang di sebabkan oleh endoktoksin pada hipotalamus dan hipotermia adalah tanda-tanda penting yang merefleksikan perkembangan status syok/penurunan perfusi jaringan.
Amati adanya menggigil dan diaforesis
Menggigil sering kali mendahului memuncaknya suhu pada infeksi umum.
Observasi tanda-tanda penyimpangan kondisi/kegagalan untuk memperbaiki selama masa terapi.
Dapat menunjukkan ketidaktepatan terapi antibiotik atau pertumbuhan dari organisme.
Berikan obat anti malaria sesuai petunjuk.
Dapat membasmi atau memberikan imunitas sementara untuk infeksi umum.
Pantau pemeriksaan laboratoris.
Identifikasi terhadap penyebab jenis infeksi malaria.

Nyeri dan ketidaknyamanan b/d respons inflamasi sistemik, mialgia, artralgia, diaforesis.
Tujuan : dalam waktu 3 x 24 jam terjadi penurunan keluhan nyeri dan ketidaknyamanan.
Kriteria Hasil :
1.      Secara objektif melaporkan nyeri berkurang atau dapat diadaptasi
2.      Skal nyeri 0-1 (0-4). Dapat mengidentifikasi aktivitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri
3.      Klien tidak gelisah
Intervensi
Rasional
Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan noninvasif.
Pendekatan menggunakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan kesepakatan keefektifan dalam mengurangi nyeri.
Lakukan manajmen nyeri keperawatan.
·    Istirahatkan klien pada saat nyeri muncul


·    Ajarkanteknik relaksasi pernapasan dalam pada saat nyeri muncul
·    Manajmen lingkungan
1. Lingkungan tenang
2. Batasi pengunjung
3. Istirahatkan klien


·    Istirahat secara fisikologis akan menurunkan kebutuhan oksigen yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme basal.
·    Meningkatkan intake oksigen sehingga akan menurunkan nyeri sekunder dari iskemia spina.
·    Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal dan batasan pengunjung akan membantu meningkatkan kondisi oksigen ruangan yang akan berkurang apabila banyak pengunjung yang berada di ruangan. Istirahat akan menurunkan kebutuhan oksigen jaringan perifer.
Tingkatkan pengetahuan tentang sebab-sebab nyeri dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berlangsung.
Pengetahuan mengenai hal yang akan di rasakan membantu mengurangi nyerinya dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana terapeutik.

Kecemasan b/d kondisi sakit,prognosis penyakit malaria falcifarum
Tujuan : secara objektif melaporkan rasa cemas berkurang
Kriteria Hasil :
1.      Klien mampu mengungkapkan perasaannya kepada perawat.
2.      Klien dapat mendemonstrasikan keterampilan pemecahan masalahnya koping dan perubahan koping yang digunakan sesuai situasi yang dihadapi.
3.      Klien dapat mencatat penurunan kecemasan/ketakutan di bawah standar.
4.      Klien dapat rileks dan tidur/istirahat dengan baik.
Intervensi
Rasional
Monitor respon fisik, seperti kelemahan, perubahan tanda vital, dan gerakan yang berulang-ulang. Catat kesesuaian respons verbal dan nonverbal selama komunikasi.
Digunakan dalam mengevaluasi derajat/tingkat kesadaran/konsentrasi, khususnya ketika melakukan komunikasi verbal.
Anjurkan klien dan keluarga untuk mengungkapkan dan mengekspresikan rasa takutnya.
Kesempatan diberikan pada klien untuk mengekspresikan rasa takutdan kekhawatiran tentang akan merasa malu akibat kurang kontrol terhadap eliminasi usus. Ketakutan akan rasa malu ini sering menjadi masalah utama.
Catat redaksi dari klien atau keluarga. berikan kesempatan untuk mendiskusikan perasaannya atau konsentrasinya dan harapan masadepan.
Anggota keluarga dengan responnya padaa apa yang terjadi dan kecemasannya dapat disampaikan kepada perawat.
Anjurkan aktivitas pengalihan perhatian sesuai kemampuan individu, seperti nonton TV.
Meningkatkan distraksi dari pikiran klien dengan kondisi sakit.

Kurang pengetahuan mengenai penyakit, prognesis dan kebutuhan pengobatan b/d kurangnya pemajanan, kesalahan interprestasi informasi, keterbatasan kognitif.
Tujuan : Dalam waktu 1 x 24 jam klien mampu melaksanakan apa yang telah di informasikan.
Kriteria Hasil :
1.      Klien mampu mengulang kembali informasi penting yang di berikan.
2.      Klien terlihat termotivasi terhadap informasi yang di jelaskan.
Intervensi
Rasional
Kaji kemampuan klien untuk mengikuti pembelajaran (tingkat kecemasan, kelelahan umum, pengetahuan klien sebelumnya dan suasana yang tepat).
Keberhasilan proses pembelajaran di pengaruhi oleh kesiapan fisik, emosional dan lingkungan yang kondusif.
Tinjau proses penyakit dan harapan masa depan.
Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien membuat pilihan.
Berikan informasi mengenai terapi obat-obatan, interaksi obat, efek samping, dan ketaatan terhadap program.
Meningkatkan pemahaman dan kerjasama dalam penyembuhan serta mengurangi kambuhnya komplikasi
Diskusikan kebutuhan untuk pemasukan nutrisional yang tepat dan seimbang
Perlu untuk penyembuhan optimal dan kesejahteraan umum.
Dorong periode istirahat dan aktivitas yang terjadwal
Mencegah pemenatan, penghematan energi dan meningkatkan penyembuhan.
Tinjau perlunya kesehatan pribadi dan kebersihan lingkungan
Membantu mengontrol pemajanan lingkungan dengan mengurangi jumlah penyebab penyakit yang ada.
Tekankan pentingnya terapi antibiotik sesuai kebutuhan .
Penggunaan terhadap pencegahan terhadapinfeksi.

4.      Implementasi
Sesuai dengan intervensi
5.      Evaluasi
Hasil yang di harapkan pada asuhan keperawatan pada anak dengan malaria meliputi :
a)      Penurunan suhu tubuh
b)      Terpenuhinya perfusi jaringan
c)      Tidak terjadi gangguan elektrolit
d)     Terpenuhinya kebutuhan nutrisi
e)      Tidak terjadi infeksi
f)       Tidak mengeluh nyeri dan peningkatan perasaan nyaman
g)      Kecemasan berkurang atau teradaptasi
h)      Terpenuhinya kebutuhan pengetahuan individu.








BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Malaria adalah suatu penyakit infeksi yang menginvasi sistem hematologi melalui vektor nyamuk yang terinfeksi protozoa plasmodium. (Arif Muttaqin, dkk, 2011)
Malaria adalah penyakit yang bersifat akut maupun kronik yang disebabkan oleh protozoa genus plasmodium yang ditandai dengan demam, anemia dan splenomegali (Mansjoer, 2001, hal 406).
Malaria adalah infeksi parasit pada sel darah merah yang disebabkan oleh suatu protozoa spesies plasmodium yang ditularkan kepada manusia melalui air liur nyamuk (Corwin, 2000, hal 125).
Terdapat lima spesies paling umum yang memberikan pengaruh cedera terhadap manusia (fernandez, 2009), yaitu sebagai berikut.
1.      Plasmodium Falcifarum
2.      Plasmodium Vivax
3.      Plasmodium Ovale
4.      Plasmodium Malariae
5.      Plasmodium Knowlesi
Plasmodium Knowlesi, baru-baru ini di identifikasi di Asia tenggara sebagai patogen bermakna secara klinis pada amanusia (Cox-Singh, 2008) (Arif Muttaqin, dkk, 2011).
Sesuai dengan penyebab malaria di bedakan berdasarkan jenis plasmodiumnya. (Arif Muttaqin, dkk, 2011)
Pasien malaria biasanya memperoleh infeksi di daerah endemik melalui gigitan nyamuk. Vektor, spesies nyamuk Anopheles, melewati plasmodia, yang terkandung dalam air liur masuk ke dalam tubuh manusia saat nyamuk tersebut menghisap darah.
Hasil infeksi tergantung pada imunitas host. Individu dengan kekebalan dapat secara spontan menghapus parasit. Pada mereka yang tidak memiliki kekebalan, parasit, memperluas infeksi. Sejumlah kecil parasit menjadi gametocytes, yang mengalami reproduks, seksual ketika diisap oleh nyamuk. Hal ini dapat berkembang menjadi infeksi sporozoites. yang terus berkembang menjadi siklus transmisi baru setelah menggigit ke dalam host baru. Secara garis besar semua jenis plasmodium memiliki siklus hidup yang sama yaitu tetap sebagian di tubuh manusia dan sebagian di tubuh nyamuk.
B.     Saran
Diharapkan oleh penulis adalah penulis lebih memahami prosester jadinya penyakit malaria pada anak, penyebab, klasifikasi, tanda dan gejala sampai pengobatan yang tepat sesuai dengan keadaan penyakit klien dan rasional sesuai dengan fakta yang ada. Selain itu diharapkan dengan adanya makalah ini dapat membantu teman-teman dalam mengenal dan memahami penyakit malaria secara menyeluruh.




















DAFTAR PUSTAKA


Arif Muttaqin. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Klien Gangguan Gastrointestinal. Aplikasi Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Salemba Medika.
http://dimas-nursehalut.blogspot.com/2010/08/askep-malaria-pada-anak.html

2 komentar: