Senin, 03 Juni 2013

EKSTERMITAS ATAS (GERAK TULANG ATAS)

EKSTERMITAS ATAS (GERAK TULANG ATAS)
FRAKTUR
HUMERUS
RADIUS ULNA
META KARPAL
Pengertian
Terputusnya kontinuitas jaringan tulang humerus yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa (mansjoer, arif, et al 2000)
Fraktur antebrachii adalah terputusnya kontinuitas tulang radius ulna, pada anak biasanya tampak angulasi anterior dan kedua ujung tulang yang patah masih berhubungan satu sama lain. Gambaran klinis fraktur antebrachii pada orang dewasa biasanya tampak jelas karena fraktur radius ulna sering berupa fraktur yang disertai dislokasi fragmen tulang.
Fraktur yang terjadi pada ujung jari karena trauma pada sendi interfalangs atau terjadi pada meta karpal karena tidak tahan thp trauma langsung ketika tangan mengepal dan disalokasi basis meta karpal
Etiologi
1.    Kekerasan langsung
Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya kekerasan. Fraktur demikian demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan garis patah melintang atau miring.
2.    Kekerasan tidak langsung
Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.
3.    Kekerasan akibat tarikan otot
Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan. (Oswari E, 1993)

Menurut Mansjoer (2000), ada empat jenis fraktur antebrachii yang khas beserta penyebabnya yaitu :
1. Fraktur Colles
Deformitas pada fraktur ini berbentuk seperti sendok makan (dinner fork deformity). Pasien terjatuh dalam keadaan tangan terbuka dan pronasi, tubuh beserta lengan berputar ke ke dalam (endorotasi). Tangan terbuka yang terfiksasi di tanah berputar keluar (eksorotasi/supinasi).
2. Fraktur Smith
Fraktur Smith merupakan fraktur dislokasi ke arah anterior (volar), karena itu sering disebut reverse Colles fracture. Fraktur ini biasa terjadi pada orang muda. Pasien jatuh dengan tangan menahan badan sedang posisi tangan dalam keadaan volar fleksi pada pergelangan tangan dan pronasi. Garis patahan biasanya transversal, kadang-kadang intraartikular.
3. Fraktur Galeazzi
Fraktur Galeazzi merupakan fraktur radius distal disertai dislokasi sendi radius ulna distal. Saat pasien jatuh dengan tangan terbuka yang menahan badan, terjadi pula rotasi lengan bawah dalam posisi pronasi waktu menahan berat badan yang memberi gaya supinasi.
4. Fraktur Montegia
Fraktur Montegia merupakan fraktur sepertiga proksimal ulna disertai dislokasi sendi radius ulna proksimal. Terjadi karena trauma langsung.
·    Tarauma langsung yaitu fraktur mendapat ruda paksa cth. Benturan, pukulan, yang dapat mengakibatkan patah tulang.
·    Trauma tidak langsung. Penderita jatuh dalam keadaan ekstensi dapat terjadi fraktur pada pergelangan tangan
·    Trauma ringan dapat menyebakan terjadinya fraktur bila tulang itu sendiriitu rapuh/ ada underlying dedsease yang disebut dengan fraktur patologis
Patofiologi
Tulang bersifat rapuh namun cukup mempunyai kekeuatan dan gaya pegas untuk menahan tekanan (Apley, A. Graham, 1993). Tapi apabila tekanan eksternal yang datang lebih besar dari yang dapat diserap tulang, maka terjadilah trauma pada tulang yang mengakibatkan rusaknya atau terputusnya kontinuitas tulang (Carpnito, Lynda Juall, 1995). Setelah terjadi fraktur, periosteum dan pembuluh darah serta saraf dalam korteks, marrow, dan jaringan lunak yang membungkus tulang rusak. Perdarahan terjadi karena kerusakan tersebut dan terbentuklah hematoma di rongga medula tulang. Jaringan tulang segera berdekatan ke bagian tulang yang patah. Jaringan yang mengalami nekrosis ini menstimulasi terjadinya respon inflamasi yang ditandai denagn vasodilatasi, eksudasi plasma dan leukosit, dan infiltrasi sel darah putih. Kejadian inilah yang merupakan dasar dari proses penyembuhan tulang nantinya  (Black, J.M, et al, 1993)

Apabila tulang hidup normal mendapat tekanan yang berlebihan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kekuatan yang tiba-tiba dan berlebihan tersebut mengakibatkan jaringan tidak mampu menahan kekuatan yang mengenainya. Maka tulang menjadi patah sehingga tulang yang mengalami fraktur akan terjadi perubahan posisi tulang, kerusakan hebat pada struktur jaringan lunak dan jaringan disekitarnya yaitu ligament, otot, tendon, pembuluh darah dan persyarafan yang mengelilinginya (Long, B.C, 1996). Periosteum akan terkelupas dari tulang dan robek dari sisi yang berlawanan pada tempat terjadinya trauma. Ruptur pembuluh darah didalam fraktur, maka akan timbul nyeri. Tulang pada permukaan fraktur yang tidak mendapat persediaan darah akan mati sepanjang satu atau dua millimeter.
Setelah fraktur lengkap, fragmen-fragmen biasanya akan bergeser, sebagian oleha karena kekuatan cidera dan bias juga gaya berat dan tarikan otot yang melekat. Fraktur dapat tertarik dan terpisah atau dapat tumpang tindih akibat spasme otot, sehingga terjadi pemendekkan tulang (Apley, 1995), dan akan menimbulkan derik atau krepitasi karena adanya gesekan antara fragmen tulang yang patah (Long, B.C, 1996).
Trauma dapat menyebabkan fraktur yang akan mengakibatkan seseorang memiliki keterbatasan gerak, ketidakseimbangan dan nyeri pergerakan. Jaringan lunak yang terdapat di sekitar fraktur seperti pembuluh darah syaraf dan otot serta organ lain yang berdekatan dapat dirusak karena mencuatnya tulang yang patah. Apabila kulit sampai robek, hal ini akan menyebabkan potensial infeksi. Tulang memiliki sangat banyak pembuluh darah. Akibat dari fraktur, pembuluh darah di dalam keluar ke jaringan lunak atau pada luka yang terbuka sehingga dapat mempercepat pertumbuhan bakteri. ( Arief Masjoer. 2000 )
Tanda dan gejala
Pada fraktur humerus yang sering dialami oleh orang tua, gejalanya ringan erupa sakit di sekitar bahu. Sedangkan pada penderita yang muda gejalanya, gangguan fungsi, bengkak, nyeri tekan dan nyeri saat di gerakkan
Berikut adalah manifestasi klinik dari fraktur antebrachii menurut Mansjoer (2000) :
1. Fraktur Colles
·   Fraktur metafisis distal radius dengan jarak _+ 2,5 cm dari permukaan sendi distal radius
·   Dislokasi fragmen distalnya ke arah posterior/dorsal
·   Subluksasi sendi radioulnar distal
·   Avulsi prosesus stiloideus ulna.
2. Fraktur Smith
Penonjolan dorsal fragmen proksimal, fragmen distal di sisi volar pergelangan, dan deviasi ke radial (garden spade deformity).
3. Fraktur Galeazzi
Tampak tangan bagian distal dalam posisi angulasi ke dorsal. Pada pergelangan tangan dapat diraba tonjolan ujung distal ulna.
4. Fraktur Montegia
Terdapat 2 tipe yaitu tipe ekstensi (lebih sering) dan tipe fleksi. Pada tipe ekstensi gaya yang terjadi mendorong ulna ke arah hiperekstensi dan pronasi. Sedangkan pada tipe fleksi, gaya mendorong dari depan ke arah fleksi yang menyebabkan fragmen ulna mengadakan angulasi ke posterior.
Baseball finger : pasien tidak dapat menggerakkan ekstensi penuh pada ujung distal falang karena distal falang selalu dalam posisi fleksi pada sendi interfalang distal dan terdapat hematoma pada sendi.
 Fraktur bennet : tampak adanya pembengkakan didaerah karpometakarpal
Ø I, nyeri tekan, dan sakit ketika digerakkan ( arief mansjoer.2000)
Pemeriksaan penunjang 
a)        Pemeriksaan Radiologi
b)       Pemeriksaan Laboratorium
c)        Pemeriksaan lain-lain

Pemeriksaan radiologis dilakukan untuk menentukan ada/tidaknya dislokasi. Lihat kesegarisan antara kondilus medialis, kaput radius, dan pertengahan radius.
Pemeriksaan penunjang menurut Doenges (2000), adalah
1. Pemeriksaan rontgen
2. Scan CT/MRI
3. Kreatinin
4. Hitung darah lengkap
5. Arteriogram
Teknik radiografi yang di sebut posisi stecher. Pasien diminta untuk duduk di tepi meja pemeriksaan lengan bawah dan tangan pasien di atur dengan posisi pos terior anterior pada film. Film dibagi menjadi dua bagian sama besar yang salah satu permukaannya di tutup dengan timbal. Film diletakkan di atas pengganjal 20 inci di atas meja pemeriksaan. Pusat berkas sinar di atur vertikal tegak lurus terhadap objek dengan titik tuju tepat mengenai tulang sekapoid yang di periksa. Film yang digunakan berukuran 18 cm x 24 cm.
Konflikasi
1)       Komplikasi Awal
a)         Kerusakan Arteri
b)         Kompartement Syndrom
c)         Fat Embolism Syndrom
d)        Infeksi
e)         Avaskuler Nekrosis
f)          Shock
2)       Komplikasi Dalam Waktu Lama
a)         Delayed Union
b)         Nonunion
c)         Malunion

Menurut Long (2000), komplikasi fraktur dibagi menjadi :
1. Immediate complication yaitu komplikasi awal dengan gejala
·   Syok neurogenik
·   Kerusakan organ syaraf
2. Early complication
·   Kerusakan arteri
·   Infeksi
·   Sindrom kompartemen
·   Nekrosa vaskuler
·   Syok hipovolemik
3. Late complication
·   Mal union
·   Non union
·   Delayed union
1.      Mal union
Keadaan di mana fraktur menyembuh pada saatnya, tetapi terdapat deformitas yang berbentuk angulasi, varus/valgus, rotasi, kependekan.
2.      Delayed union
Fraktur yang tidak sembuh setelah selang waktu 3 – 5 bulan (tiga bulan untuk anggota gerak atas dan lima bulan untuk anggota gerak bawah).
3.      Non union
Apabila fraktur tidak menyembuh antaran 6 – 8 bulan dan tidak didapatkan konsolidasi sehingga terdapat pseudoartritis (sendi palsu).
Penatalaksanaan
Pada fraktur humerus diperlukan tindakan reposisi. Lengan yang cidera cukup di istirahatkan dengan memakai gendongan atau sling selama 6 minggu. Semua waktu itu penderita di latih untuk menggerakkan sendi bahu berputar sambil membongkokkan badan meniru gerakan bandul atau pendulum eksersais. Hal ini di maksudkan untuk mencegah kekakuan sendi. Fraktur ini memerlukan 6-10 minggu untuk sembuh dan pasien harus menghindari aktivitas yang berlebihan seprti tenis selama 4 minggu kemudian. Pada penderita dewasa bila terjadi dislokasi sendi dapat di lakuakan reposisi dan imubilasasi dengan gips spica.
Berikut adalah penatalaksanaan fraktur antebrachii menurut Mansjoer (2000) :
1. Fraktur Colles
Pada fraktur Colles tanpa dislokasi hanya diperlukan imobilisasi dengan pemasangan gips sirkular di bawah siku selama 4 minggu. Bila disertai dislokasi diperlukan tindakan reposisi tertutup. Dilakukan dorsofleksi fragmen distal, traksi kemudian posisi tangan volar fleksi, deviasi ulna (untuk mengoreksi deviasi radial) dan diputar ke arah pronasio (untuk mengoreksi supinasi). Imobilisasi dilakukan selama 4 - 6 minggu.
2. Fraktur Smith
Dilakukan reposisi dengan posisi tangan diletakkan dalam posisi dorsofleksi ringan, deviasi ulnar, dan supinasi maksimal (kebalikan posisi Colles). Lalu diimobilisasi dengan gips di atas siku selama 4 - 6 minggu.
3. Fraktur Galeazzi
Dilakukan reposisi dan imobilisasi dengan gips di atas siku, posisi netral untuk dislokasi radius ulna distal, deviasi ulnar, dan fleksi.
4. Fraktur Montegia
Dilakukan reposisi tertutup. Asisten memegang lengan atas, penolong melakukan tarikan lengan bawah ke distal, kemudian diputar ke arah supinasi penuh. Setelah itu, dengan jari kepala radius dicoba ditekan ke tempat semula. Imobilisasi gips sirkuler dilakukan di atas siku dengan posisi siku fleksi 90° dan posisi lengan bawah supinasi penuh. Bila gagal, dilakukan reposisi terbuka dengan pemasangan fiksasi interna (plate-screw).
Yang harus diperhatikan pada waktu mengenal fraktur adalah :
1.  Recognisi/pengenalan. Di mana riwayat kecelakaannya atau riwayat terjadi fraktur harus jelas.
2.  Reduksi/manipulasi. Usaha untuk manipulasi fragmen yang patah sedapat mungkin dapat kembali seperti letak asalnya.
3.  Retensi/memperhatikan reduksi. Merupakan suatu upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen
4.  Traksi. Suatu proses yang menggunakan kekuatan tarikan pada bagian tubuh dengan memakai katrol dan tahanan beban untuk menyokong tulang.
5.  Gips. Suatu teknik untuk mengimobilisasi bagian tubuh tertentu dalam bentuk tertentu dengan mempergunakan alat tertentu.
6.  Operation/pembedahan. Saat ini metode yang paling menguntungkan, mungkin dengan pembedahan. Metode ini disebut fiksasi interna dan reduksi terbuka. Dengan tindakan operasi tersebut, maka fraktur akan direposisi kedudukan normal, sesudah itu direduksi dengan menggunakan orthopedi yang sesuai







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar