Senin, 03 Juni 2013

ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN PADA PASIEN DENGAN KOLITIS

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar belakang
                 Feses berdarah, berlendir, dan bernanah adalah tanda-tanda dari terganggunya saluran pencernaan. Jika ternyata Anda mengalami diare hebat, demam tinggi, dan pendarahan pada saat buang air besar (BAB), Anda harus waspada. Bisa jadi Anda mengalami radang usus besar (kolitis ulserativa).
                 Kolitis ulserativa adalah peradangan akut atau kronik pada kolon (usus besar). Karena peradangan itu, terjadi kram perut, demam, dan diare berdarah. Peradangan itu dimulai di rektum atau kolon sigmoid (ujung bawah dari usus besar) dan kemudian menyebar ke sebagian atau seluruh bagian usus besar. Pada bagian yang meradang akan terjadi pembengkakan. Kolitis di derita oleh siapa pun dan pada umur berapa pun. Tapi biasanya mulai diderita pada umur 15-30 tahun dan bisa juga di atas 50 tahun.
                 Kolitis banyak ditemukan di Amerika dan Eropa dengan kondisi penderitaan pasien makin lama makin berat. Insiden kolitis ulseratif di Amerika utara yaitu 10-12 kasus per 100.000 tiap tahun, onset terjadi pada usia 15-25 tahun, dimana insiden pada wanita lebih besar daripada laki-laki. Di Asia termasuk Indonesia prevalensi dan insiden kolitis masih rendah namun cenderung meningkat. Meluasnya penggunaan alat endoskopi membuat pasien kolitis di Indonesia, lebih banyak ditemukan. Penelitian yang dilakukan salah satu RS di Jakarta mendapatkan hampir 20% kasus kolitis dari 107 pasien datang dengan keluhan diare kronik non infeksi. Insiden kolitis ulseratif 6,8% dan penyakit Cohrn 5,5%.

B.  Tujuan
1.      Tujuan umum
Untuk mengurangi angka kesakitan dan meningkatkan derajat kesehatan.
2.      Tujuan khusus
·      Memperoleh gambaran mengenai penyakit Kolitis
·      Mampu mengidentifikasi kasus gangguan sistem pencernaan khususnya 
·      Kolitis  sehingga dapat mengatasi masalah keperawatan yang terjadi
·      Mampu mengenali pengkajian sampai evaluasi yang sering terjadi pada  klien dengan 
C.  Manfaat
Dalam penulisan makalah ini, penulis mengharapkan agar hasil makalah ini dapat dipergunakan sebagai:
1.      Kegunaan Ilmiah 
·      Sebagai bahan bacaan  
·      Sebagai salah satu tugas akademik 
2.      Kegunaan Praktis 
Manfaat bagi tenaga perawat dalam penerapan asuhan keperawatan pada klien dengan Kolitis ulseratif dan Apendisitis.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.  Komsep teori
1.      ANATOMI DAN FISIOLOGI KOLON
                         Usus besar atau colon berbentuk saluran muscular beronga yang membentang dari secum hingga canalis ani dan dibagi menjadi sekum, colon (assendens, transversum, desendens, dan sigmoid), dan rectum. Katup ileosekal mengontrol masuknya kimus ke dalam kolon, sedangkan otot sfingter eksternus dan internus mengotrol keluarnya feses dari kanalis ani. Diameter kolon kurang lebih 6,3 cm dengan panjang kurang lebih 1,5 m.
                         Usus besar memiliki berbagai fungsi, yang terpenting adalah absorbsi air dan elektrolit. Ciri khas dari gerakan usus besar adalah pengadukan haustral. Gerakan meremas dan tidak progresif ini menyebabkan isi usus bergerak bolak balik, sehingga memberikan waktu untuk terjadinya absorbsi. Peristaltik mendorong feses ke rectum dan menyebabkan peregangan dinding rectum dan aktivasi refleks defekasi.
                         Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam kolon berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi. Bakteri di dalam kolon juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri di dalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air sehingga terjadilah diare.
                         Gerak dan sekresi Kolon Pergerakan kolon terdiri dari kontraksi segmentasi dan gelombang peristaltik seperti yang terdapat pada usus halus. Kontraksi segmentasi mencampur isi kolon dan dengan lebih banyak menyentuhkan isi ke mukosa, mempermudah absorbsi. Gelombang peristaltik mendorong isi ke rektum, walaupun kadang-kadang terlihat antiperistaltik yang lemah. Kontraksi tipe ke tiga yang terdapat hanya pada kolon adalah mass action contraction, di mana terdpat kontraksi otot polos yang serentak meliputi daerah yang luas.. Kontraksi ini terjadi pada pars desenden dan sigmoid dan berperan untuk mengosongkan kolon dengan cepat. Kontraksi ini merupakan kekuatan kontraksi yang jelas waktu defekasi.
                         Pergerakan kolon dikoordinasi oleh gelombang lambat kolon. Frekuensi gelombang ini, tidak seperti gelombang pada usus halus, meningkat sepanjang kolon, dari kira-kira 2 x / menit pada katup ileocaecal sampai 6 x / menit pada signoid. Sekresi kukus oleh kelenjar kolon dirangsang oleh kontak antara sel-sel kelenjar dan isi kolon. Tidak ada hubungan hormonal atau saraf berperan dalam respon dasar sekresi, walaupun beberapa sekresi tambahan dapat dihasilkan oleh respon reflek lokal melalui nervus pelvicuc dan splanknikus. Tidak ada enzem pencernaan disekresi dalam kolon.

Absorpsi dalam kolon
                         Kemampuan absorpsi mukos usus besar sangat besar. Na secara aktif ditransport keluar kolon, dan air mengikuti osmotik gradier yang ditimbulkan. Terdapat sekresi K , dan HCO kedalam kolon. Kapasitas absorpsi kolon membuat instalasi rektum merupakan suatu jalan yang praktis untuk pemberian obat, khususnya anak-anak. Banyak senyawaan, termasuk obat anestesi, sedatif, transquilizer, dan steroid, diabsorpsi dengan cepat oleh tempat ini. Sebagian air dalam enema diabsorpsi, dan bila volime enema besar, absorpsi dapat cukup cepat menyebabkan intoksikasi air. Koma dan kematian yang disebabkan karena intoksikasi air telah dilaporkan setelah enema dengan air kran pada anak-anak dengan megakolon

2.      PENGERTIAN
                         Kolitis adalah radang pada kolon. Radang ini disebabkan akumulasi cytokine yang mengganggu ikatan antar sel epitel sehingga menstimulasi sekresi kolon, stimulasi sel goblet untuk mensekresi mucus dan mengganggu motilitas kolon. Mekanisme ini menurunkan kemampuan kolon untuk mengabsorbsi air dan menahan feses ( Tilley et al, 1997).
                         Kolitis dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain infeksi akut atau kronik oleh virus, bakteri, dan amoeba, termasuk keracunan makanan. Kolitis dapat juga disebabkan gangguan aliran darah ke daerah kolon yang dikenal dengan kolitis iskemik. Adanya penyakit autoimun dapat menyebabkan kolitis, yaitu kolitis ulseratif dan penyakit Cohrn. Kolitis limfositik dan kolitis kolagenus disebabkan beberapa lapisan dinding kolon yang ditutupi oleh sel-sel limfosit dan kolagen. Selain itu, kolitis dapat disebabkan zat kimia akibat radiasi dengan barium enema yang merusak lapisan mukosa kolon, dikenal dengan kolitis kemikal.
                         Faktor resiko yang mempengaruhi terjadinya kolitis ditinjau dari teori Blum dibedakan menjadi empat faktor, yaitu: faktor biologi, faktor lingkungan, faktor pelayanan kesehatan, dan faktor prilaku.
·      Faktor Biologi: Jenis kelamin: Wanita beresiko lebih besar dibanding laki-laki. Usia: 15-25 tahun, dan lebih dari 50 tahun. Genetik/ familial: Riwayat keluarga dengan kolitis
·      Faktor Lingkungan: Lingkungan dengan sanitasi dan higienitas yang kurang baik. Nutrisi yang buruk
·      Faktor Perilaku: Kegemukan (obesitas). Merokok. Stress / emosi. Pemakaian laksatif yang berlebihan. Kebiasaan makan makanan tinggi serat, tinggi gula, alkohol, kafein, kacang, popcorn, makanan pedas. Kurang kesadaran untuk berobat dini. Keterlambatan dalam mencari pengobatan. Tidak melakukan pemeriksaan rutin kesehatan.
·      Faktor Pelayanan Kesehatan: Minimnya pengetahuan petugas kesehatan. Kurangnya sarana dan prasarana yang memadai. Keterlambatan dalam diagnosis dan terapi. Kekeliruan dalam diagnosis dan terapi.   Tidak adanya program yang adekuat dalam proses skrining awal penyakit.

3.      ETIOLOGI
                         Kolitis bisa menjalar ke belakang sehingga menyebabkan proktitis. Penyebab dari kolitis ada beberapa macam antara lain ( Tilley et al, 1997) :
·      Infeksi : Trichuris vulpis, Ancylostoma sp, Entamoeba histolytica, Balantidium coli, Giardia spp, Trichomonas spp, Salmonella spp, Clostridium spp, Campylobacter spp, Yersinia enterolitica, Escherichia coli, Prototheca, Histoplasma capsulatum, dan Phycomycosis.
·      Faktor familial/genetik
Penyakit ini lebih sering dijumpai pada orang kulit putih daripada orang kulit hitam dan orang Cina, dan insidensinya meningkat (3 sampai 6 kali lipat) pada orang Yahudi dibandingkan dengan orang non Yahudi. Hal ini menunjukkan bahwa dapat
·      ada predisposisi genetik terhadap perkembangan penyakit ini
·      Trauma : benda asing, material yang bersifat abrasif.
·      Alergi : protein dari pakan atau bisa juga protein bakteri.
·      Polyps rektokolon
·      Intususepsi ileokolon
·      Inflamasi : Lymphoplasmacytic, eoshinophilic, granulopmatous, histiocytic
·      Neoplasia : Lymphosarcoma, Adenocarcinoma
·      Sindrom iritasi usus besar (Irritable Bowel Syndrome)

4.      KLASIFIKASI
berdasarkan penyebab dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a.    Kolitis infeksi, misalnya : shigelosis, kolitis tuberkulosa, kolitis amebik, kolitis pseudomembran, kolitis karena virus/bakteri/parasit.
b.    Kolitis non-infeksi, misalnya : kolitis ulseratif, penyakit  Crohn’s kolitis radiasi, kolitis iskemik, kolitis mikroskopik, kolitis non-spesifik (simple colitis).
                    Pembahasan ini difokuskan pada kolitis infeksi yang sering ditemukan di Indonesia sebagai daerah tropik, yaitu kolitis amebik, shigellosis, dan kolitis tuberkulosa serta infeksi E.coli patogen yang dilaporkan sebagai salah satu penyebab utama diare kronik di Indonesia.

5.      PATOFISIOLOGI
                         Suatu serangan bisa mendadak dan berat, menyebabkan diare hebat, demam tinggi, sakit perut dan peritonitis (radang selaput perut). Selama serangan, penderita tampak sangat sakit. Yang lebih sering terjadi adalah serangannya dimulai bertahap, dimana penderita memiliki keinginan untuk buang air besar yang sangat, kram ringan pada perut bawah dan tinja yang berdarah dan berlendir.
                         Jika penyakit ini terbatas pada rektum dan kolon sigmoid, tinja mungkin normal atau keras dan kering. Tetapi selama atau diantara waktu buang air besar, dari rektum keluar lendir yang mengandung banyak sel darah merah dan sel darah putih. Gejala umum berupa demam, bisa ringan atau malah tidak muncul.
Jika penyakit menyebar ke usus besar, tinja lebih lunak dan penderita buang air besar sebanyak 10-20 kali/hari.
                         Penderita sering mengalami kram perut yang berat, kejang pada rektum yang terasa nyeri, disertai keinginan untuk buang air besar yang sangat. Pada malam haripun gejala ini tidak berkurang. Tinja tampak encer dan mengandung nanah, darah dan lendir. Yang paling sering ditemukan adalah tinja yang hampir seluruhnya berisi darah dan nanah.
                         Penderita bisa demam, nafsu makannya menurun dan berat badannya berkurang.Kolitis ulseratif adalah penyakit ulseratif dan inflamasi berulang dari lapisan mukosa kolon dan rectum. Penyakit ini umumnya mengenai orang kaukasia, termasuk keturunan Yahudi. Puncak insidens adalah pada usia 30-50 tahun. Kolitis ulseratif adalah penyakit serius, disertai dengan komplikasi sistemik dan angka mortalitas yang tinggi. Akhirnya 10%-15% pasien mengalami karsinoma kolon.
Kolitis ulseratif mempengaruhi mukosa superfisisal kolon dan dikarakteristikkan dengan adanya ulserasi multiple, inflamasi menyebar, dan deskuamasi atau pengelupasan epitelium kolonik. Perdarahan terjadi sebagai akibat dari ulserasi. Lesi berlanjut, yang terjadi satu secara bergiliran, satu lesi diikuti lesi yang lainnya. Proses penyakit mulai pada rectum dan akhirnya dapat mengenai seluruh kolon. Akhirnya usus menyempit, memendek dan menebal akibat hipertrofi muskuler dan deposit lemak.













6.      Manifestasi Klinik
                         Kebanyakan gejala Colitis ulserativa pada awalnya adalah berupa buang air besar yang lebih sering. Gejala yang paling umum dari kolitis ulseratif adalah sakit perut dan diare berdarah. Pasien juga dapat mengalami:
a.    Anemia
b.    Fatigue/ Kelelahan
c.    Berat badan menurun
d.   Hilangnya nafsu makan
e.    Hilangnya cairan tubuh dan nutrisi
f.     Lesi kulit (eritoma nodosum)
g.    Lesi mata (uveitis)
h.    Nyeri sendi
i.      Kegagalan pertumbuhan (khususnya pada anak-anak)
j.      Buang air besar beberapa kali dalam sehari (10-20 kali sehari)
k.    Terdapat darah dan nanah dalam kotoran.
l.      Perdarahan rektum (anus).
m.  Rasa tidak enak di bagian perut.
n.    Mendadak perut terasa mulas.
o.    Kram perut.
p.    Sakit pada persendian.
q.    Rasa sakit yang hilang timbul pada rectum
r.     Anoreksia
s.     Dorongan untuk defekasi
t.     Hipokalsemia
                         Sekitar setengah dari orang-orang didiagnosis dengan kolitis ulserativa memiliki gejala-gejala ringan. Lain sering menderita demam, diare, mual, dan kram perut yang parah. Kolitis ulserativa juga dapat menyebabkan masalah seperti radang sendi, radang mata, penyakit hati, dan osteoporosis. Tidak diketahui mengapa masalah ini terjadi di luar usus. Para ilmuwan berpikir komplikasi ini mungkin akibat dari peradangan yang dipicu oleh sistem kekebalan tubuh. Beberapa masalah ini hilang ketika kolitis diperlakukan.
                         Presentasi klinis dari kolitis ulserativa tergantung pada sejauh mana proses penyakit. Pasien biasanya hadir dengan diare bercampur darah dan lendir, dari onset gradual. Penyakit ini biasanya disertai dengan berbagai derajat nyeri perut, dari ketidaknyamanan ringan untuk sangat menyakitkan kram.
                         Kolitis ulseratif berhubungan dengan proses peradangan umum yang mempengaruhi banyak bagian tubuh. Kadang-kadang terkait ekstra-gejala usus adalah tanda-tanda awal penyakit, seperti sakit, rematik lutut pada seorang remaja. Kehadiran penyakit ini tidak dapat dikonfirmasi, namun, sampai awal manifestasi usus.

7.      Pemeriksaan Penunjang
A.    GAMBARAN RADIOLOGI
·      Foto polos abdomen
·      Barium enema
·      . Ultrasonografi (USG)
·      . CT-scan dan MRI
B.      Pemeriksaan Endoskopi

8.      Pemeriksaan Diagnostik 
·      Contoh feses (pemeriksaan digunakan dalam diagnosa awal dan selama penyakit): terutama mengandung mukosa, darah, pus dan organisme usus khususnya entomoeba histolytica.
·      Protosigmoi doskopi: memperlihatkan ulkus, edema, hiperermia, dan inflamasi (akibat infeksi sekunder mukosa dan submukosa). Area yang menurun fungsinya dan perdarahan karena nekrosis dan ulkus terjadi pada 35 % bagian ini.
·      Sitologi dan biopsy rectal membedakan antara pasien infeksi dan karsinoma. Perubahan neoplastik dapat dideteksi, juga karakter infiltrat inflamasi yang disebut abses lapisan bawah.
·      Enema bartum, dapat dilakukan setelah pemeriksaan visualisasi dilakukan,  meskipun jarang dilakukan selama akut, tahap kambuh, karena dapat  membuat kondisi eksasorbasi.
·      Kolonoskopi: mengidentigikasi adosi, perubahan lumen dinding, menunjukkan obstruksi usus.
·      Kadar besi serum: rendah karena kehilangan darah.  Masa protromlain: memanjang pada kasus berat karena gangguan faktor  VII dan X disebabkan oleh kekurangan vitamin K.
·      ESR: meningkat karena beratnya penyakit Trombosis: dapat terjadi karena proses penyakit inflamasi.
·      Elektrolit: penurunan kalium dan magnesium umum pada penyakit berat.

9.      Komplikasi
·      Perdarahan, merupakan komplikasi yang sering menyebabkan anemia karena kekurangan zat besi. Pada 10% penderita, serangan pertama sering menjadi berat, dengan perdarahan yang hebat, perforasi atau penyebaran infeksi.
·      Kolitis Toksik, terjadi kerusakan pada seluruh ketebalan dinding usus.
Kerusakan ini menyebabkan terjadinya ileus, dimana pergerakan dinding usus terhenti, sehingga isi usus tidak terdorong di dalam salurannnya. Perut tampak menggelembung. Usus besar kehilangan ketegangan ototnya dan akhirnya mengalami pelebaran.
·      Kanker Kolon (Kanker Usus Besar). Resiko kanker usus besar meningkat pada orang yang menderita kolitis ulserativa yang lama dan berat.
·      Bersifat lokal atau sistemik 
·      Fistula dan fisura abses rectal
·      Dilatasi toksik atau megakolon
·      Perforasi usus
·      Karsinoma kolon


B.  KONSEP ASKEP
1.    PENGKAJIAN/PENGUMPULAN DATA
a.       Data Biografi: Nama, umur, jenis kelamin, alamat, pekerjaan
b.      Data Dasar Pengkajian Klien
1)   Aktivitas/istirahat
Gejala: 
·      Kelemahan, kelelahan, malaise, cepat lelah 
·      Insomnia, tidak tidur semalaman karena diare 
·      Merasa gelisah dan ansietas 
·      Pembatasan aktivitas/kerja sehubungan dengan efek proses penyakit.
2)   Sirkulasi
Tanda:
·      Takikardia Crospons terhadap demam, dehidrasi, proses inflamasi, dan nyeri.
·      Kemerahan area akimonsis (kekurangan vitamin K) 
·      TD: hipotensi, termasuk postural 
·      Kulit/membran mukosa, turgor buruk, kering, lidah pecah (dehidrasi/malnutrisi)
3)   Integritas ego
Gejala: 
·      Ansietas, ketakutan, emosi, kesal, misalnya perasaan tak berdaya/tak ada harapan
·      Faktor stress akut/kronis, misalnya hubungan dengan keluarga/pekerjaan, pengobatan yang mahal 
·      Faktor budaya peningkatan prevalensi dari populasi Yahudi 
Tanda:  
·      Menolak, perhatian menyempit, depresi.
4)   Eliminasi
Gejala: 
·      Tekstur feses bervariasi dari bentuk lunak sampai batu atau berair 
·      Episode diare berdarah tak dapat diperkirakan, hingga timbul, sering tak dapat dikontrol (sebanyak 20 – 30 kali defekasi/hari)
·      Perasaan dorongan/kram (temosmus), defekasi berdarah/pus/ mukosa dengan atau tanpa keluar feses. 
·      Perdarahan per rectal 
·      Riwayat batu ginjal (dehidrasi)
Tanda: 
·      Menurunnya bising usus, tak ada peristoltik atau adanya peristoltik yang dapat dilihat. 
·      Hemosoid, fisura anal (25 %), fisura perianal
·      Oliguria
5)   Makanan/ cairan
Gejala: 
·      Anoreksia, mual/muntah 
·      Penurunan berat badan 
·      Tidak toleran terhadap diet/sensitif misalnya buah segar/sayur 
·      Produk susu makanan berlemak. 
Tanda: 
·      Penurunan lemak subkutan/massa otot 
·      Kelemahan tonus otot dan turgor kulit buruk 
·      Membran mukosa pucat, luka, inflamasi rongga mulut
6)   Higine
Tanda: 
·      Ketidakmampuan mempertahankan perawatan diri  
·      Stomatitis menunjukkan kekurangan vitamin 
·      Bau badan
7)   Nyeri/kenyamanan
Gejala: 
·      Nyeri/nyeri tekan pada kwadran kiri bawah (mungkin hilang dengan defekasi) 
·      Titik nyeri berpindah, nyeri tekan (arthritis) 
·      Nyeri mata, fotofobia (iritis) 
Tanda:
·      Nyeri tekan abdomen/distensi
8)   Keamanan
Gejala: 
·      Riwayat lupus eritoma tous, anemia hemolitik, vaskulitis,. 
·      Arthritis (memperburuk gejala dengan eksoserbasi penyakit usus) 
·      Peningkatan suhu 39,6 – 40 ÂșC (eksoserbasi akut) 
·      Penglihatan kabur 
·      Alergi terhadap makanan/produk susu (mengeluarkan histamine ke dalam usus dan mempunyai efek inflamasi) 
Tanda: 
·      Lesi kulit mungkin ada misalnya: eritoma nodusum (meningkat), nyeri, kemerahan dan membengkak pada tangan, muka, plodeima gangrionosa (lesi tekan purulen/lepuh dengan batas keunguan) 
·      Ankilosa spondilitis
·      Uveitis, kongjutivitis/iritis.
9)   Seksualitas
Gejala: frekuensi menurun/menghindari aktivitas seksual
10)     Interaksi sosial
Gejala: 
·      Masalah hubungan/peran sehubungan dengan kondisi 
·      Ketidakmampuan aktif dalam sosial

2.    Diagnosa Keperawatan
A.    Potensial perubahan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan adanya mual.
Tujuan dan KH :
·      Klien tidak mual
·      Nafsu makan klien membaik
·      Klien tidak merasa nyeri di bagian abdomen-nya
·       Berat badan klien bertambah

INTERVENSI
RASIONAL
1.    Tingkat intake makanan melalui
·      Mengurangi gangguan dari lingkungan
·      Jaga privacy klien
·      Jaga kebersihan ruangan

2.    Kaji tanda-tanda vita
3.    Selingi makanan dengan minum dengan porsi sedikit tapi sering
4.    Catat intake dan out put


Cara khusus untuk meningkatkan nafsu makan klien





Membantu mengkaji keadaan klien

Memudahkan makanan masuk tanpa muntah

B.     Nyeri abdomen sehubungan dengan adanya peningkatan peristaltik usus.
Tujuan Dan KH :
·      Klien tidak mulas
·      BAB klien berkurang frekuensinya
·      Bising usus kembali normal
·       konsistensi feses tidak encer dan rasa nyeri berkurang

INTERVENSI
RASIONAL
1.    Atur posisi klien

2.    Berikan kompres panas lokal



3.    Kurangi aktivitas

4.    Anjarkan tirah


Meningkatkan rasa nyaman

Mengurangi rasa mulas dengan vasodilatasi pembuluh darah/melancarkan peredaran darah

Menurunkan kualitas sakla nyeri

Menurunkan peristaltik




C.    Intoleransi aktivitas sehubungan dengan keletihan.
Tjuan dan KH :
·      Klien merasa rasa letih berkurang
·      Klien bisa berdiri dan berjalan sendiri
·      Rasa letih berkurang
·      Dalam waktu 1 minggu keadaan klien kembali pulih

INTERVENSI
RASIONAL
1.    Anjurkan klien untuk tirah baring


2.     Batasi aktivitas


Menurunkan peristaltik usus


Membantu mengurangi keletihan



D.    Kurang pengetahuan mengenal prses dan penatalaksanaan penyakitnya.
Tujuan jangka pendek
·      klien tahu tentang penyakitnya
·      klien tahu akibat dan pencegahan mengenai penyakitnya
·      Klien mematuhi diet yang dianjurkan dan secara bertahap dapat mengurangi rasa sakit yang dirasakannya.

INTERVENSI
RASIONAL
1.    Berikan informasi kepada klien mengenai penyakitnya

2.    Ajarkan cara pencegahan dan alternatif pengobatannya


3.    Konsul dengan dokter ahli gizi untuk menentukan dietnya


Meningkatkan pengetahuan tentang penyakitnya

Mengurangi terjadinya penyakit serupa pada keluarganya


Membantu menentukan jenis diet yang sesuai untuk mempercepat kesembuhan




BAB III
PENUTUP
1.    Kesimpulan
                   Usus besar atau colon berbentuk saluran muscular beronga yang membentang dari secum hingga canalis ani dan dibagi menjadi sekum, colon (assendens, transversum, desendens, dan sigmoid), dan rectum. Katup ileosekal mengontrol masuknya kimus ke dalam kolon, sedangkan otot sfingter eksternus dan internus mengotrol keluarnya feses dari kanalis ani. Diameter kolon kurang lebih 6,3 cm dengan panjang kurang lebih 1,5 m.
                   Kolitis adalah radang pada kolon. Radang ini disebabkan akumulasi cytokine yang mengganggu ikatan antar sel epitel sehingga menstimulasi sekresi kolon, stimulasi sel goblet untuk mensekresi mucus dan mengganggu motilitas kolon. Mekanisme ini menurunkan kemampuan kolon untuk mengabsorbsi air dan menahan feses ( Tilley et al, 1997).
                   Suatu serangan bisa mendadak dan berat, menyebabkan diare hebat, demam tinggi, sakit perut dan peritonitis (radang selaput perut). Selama serangan, penderita tampak sangat sakit. Yang lebih sering terjadi adalah serangannya dimulai bertahap, dimana penderita memiliki keinginan untuk buang air besar yang sangat, kram ringan pada perut bawah dan tinja yang berdarah dan berlendir.



DAFTAR PUSTAKA
Brunner dan Suddarth.2002.Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah vol 2.Jakarta:EGC
Marliynn E, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta. EGC.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar